Kota Jambi (ANTARA) - Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang menyiapkan pemulihan ekosistem seluas lebih kurang 300 hektare melalui program penanam pohon jenis pulai (alstonia scholaris) dan Jelutung rawa (dyera lowii) di lokasi eks kebakaran hutan di wilayah tersebut.

"Pihak balai bersama tim satgas merencanakan penanaman kembali tumbuhan pulai dan jelutung di kawasan yang terbakar dan telah dinyatakan padam, yang akan dilakukan menunggu intensitas musim hujan meningkat," kata Plt. Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang Ahmad Budiyana melalui keterangan di Jambi, Kamis.

Menurut Budiyana, selain pemulihan ekosistem di areal terbakar, pihaknya juga akan merancang program perbaikan kawasan yang dilalui alat berat saat masuk ke dalam kawasan dalam rangka membantu proses penanganan kebakaran hutan.

Selain itu, sebagai langkah antisipasi jangka panjang Balai TN Berbak dan Sembilang membuka diri bagi pihak pemerintah daerah maupun Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) yang berencana ingin membuat program sumur bor di kawasan gambut termasuk di TNBS.

Ia menjelaskan, memasuki hari ke-89, upaya pemadaman masih terus berlanjut. Berdasarkan data hingga Rabu (4/11), total luas kawasan TN Berbak yang terbakar sementara ini telah mencapai 4.200 hektare.

Saat ini kebakaran di kawasan TN Berbak menyisakan tiga titik yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kecamatan Berbak dan Kecamatan Sadu, meliputi Desa Sungai Rambut, Desa Sungai Sayang, dan Desa Sungai Cemara.

Baca juga: Karhutla TN Berbak mulai berkurang dampak operasi gabungan

​Dalam upaya penanganan kebakaran di kawasan TN Berbak dibantu oleh personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri,BPBD,Basarnas, Brigdalkarhut TNBS, Manggala Agni Daops Kota Jambi, Manggala Agni Daops Bukit Tempurung, Manggala Agni Daops Pekanbaru,dan Manggala Agni Daops Dumai, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) ikut membantu proses pemadaman.

Pihak balai memastikan area yang terbakar merupakan zona rehabilitasi yang sebelumnya sempat dilanda kebakaran pada tahun 2015 dan 2019.

Sementara itu, titik api dipastikan masih jauh dari zona inti atau hutan rimba yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Menurut dia, proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala di antaranya akses medan yang sulit ditembus serta minimnya sumber pasokan air di sekitar lokasi kebakaran.

​Selain pengerahan tim darat, pihak Taman Nasional juga berkoordinasi dengan Satgas Karhut Provinsi Jambi untuk mengoptimalkan penggunaan helikopter water bombing untuk mengguyur titik-titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Termasuk melakukan langkah strategis, seperti pembuatan sekat bakar serta normalisasi parit sepanjang sekitar empat kilometer untuk mengalirkan air dari Sungai Batanghari.

Baca juga: Karhutla di tujuh titik TN Berbak masuk tahap pendinginan

"Kita terus maksimalkan upaya pemadaman termasuk mengambil langkah, seperti pembuatan sekat bakar dan normalisasi parit di luar kawasan" tuturnya.

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Agus Suprayitno

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira