Jakarta (ANTARA) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui implementasi strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif (4K) sepanjang Oktober 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan dalam keterangan resmi, Selasa, mengatakan dari sisi keterjangkauan harga, upaya tersebut dilakukan melalui Program Pangan Bersubsidi, pasar murah, serta Gerakan Cabai Harga Terjangkau.
Dari sisi ketersediaan pasokan, penguatan itu dilakukan melalui panen padi dan pengawasan keamanan pangan.
Sementara itu, kelancaran distribusi didukung oleh optimalisasi distribusi pangan BUMD, termasuk layanan truk keliling dan penyaluran beras SPHP.
"Komunikasi efektif diperkuat melalui peningkatan koordinasi dan kapasitas TPID, serta penguatan sinergi dan pertukaran best practice antardaerah," kata Iwan.
Baca juga: Inflasi tahunan Jakarta pada Oktober 2026 disumbang kelompok makanan-minuman
Dia mengatakan ke depan, sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K akan terus diperkuat untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi global akibat ketidakpastian geopolitik serta risiko domestik akibat gangguan produksi pangan seiring kondisi cuaca kering dan El Nino.
"Melalui penguatan koordinasi TPID dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta pada 2026 diharapkan tetap terkendali dalam
kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (secara tahunan)," ujar Iwan.
Pada Oktober 2026, inflasi Jakarta tercatat stabil di level 0,13 persen secara bulanan, lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 0,22 persen.
Secara tahunan, inflasi Jakarta pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,52 persen, dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen.
Capaian itu lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,23 persen dan merupakan level inflasi terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia.
Iwan menyebutkan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang utama inflasi DKI Jakarta pada Oktober 2026. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,05 persen.
Peningkatan tekanan inflasi itu, kata dia, terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah makanan jadi, antara lain sate, martabak, dan pizza.
Kelompok lain yang juga menyumbang inflasi, yakni perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kemudian makanan, minuman, dan tembakau, serta kesehatan.
Baca juga: Inflasi Jakarta pada Oktober 2026 tercatat 0,13 persen
Baca juga: Pramono sebut monitoring harga pangan jadi faktor inflasi DKI terjaga
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Lia Wanadriani Santosa
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira