Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada para dosen dalam mengembangkan dan mengimplementasikan model pembelajaran transformatif melalui kegiatan riset yang sistematis, terukur, dan berbasis bukti empiris

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan Program Pendanaan Saintek Riset Pembelajaran Transformatif (Satria) 2026/2027 untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi melalui pengembangan model pembelajaran transformatif berbasis riset pada level mata kuliah.

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kemdiktisaintek Ardi Findyartini dalam keterangan di Jakarta, Kamis, menegaskan transformasi pendidikan tinggi tidak cukup dilakukan melalui perubahan kebijakan, kurikulum, maupun pemanfaatan teknologi semata, tetapi harus diwujudkan dalam peningkatan kualitas pengalaman belajar mahasiswa.

"Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada para dosen dalam mengembangkan dan mengimplementasikan model pembelajaran transformatif melalui kegiatan riset yang sistematis, terukur, dan berbasis bukti empiris," katanya.

Direktur SSPT menjelaskan Program Satria diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menerapkan pembelajaran transformatif, menghasilkan model pembelajaran inovatif berbasis riset pada level mata kuliah, serta mendorong diseminasi hasil pengembangan melalui publikasi ilmiah, buku referensi, perangkat pembelajaran, dan dokumentasi praktik baik yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lainnya.

Baca juga: Wamen Fauzan minta kampus bertransformasi perkuat dampak ke masyarakat

Melalui program ini, Kemdiktisaintek mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi, memfasilitasi partisipasi dosen, serta mengintegrasikan hasil inovasi ke dalam praktik pembelajaran secara berkelanjutan.

Inisiatif ini diharapkan menjadi pengungkit transformasi pendidikan tinggi yang berbasis bukti, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan selaras dengan semangat Diktisaintek Berdampak.

Lebih lanjut Direktur Fasilitasi Riset, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Ayom Widipaminto menegaskan komitmen LPDP untuk mendukung pendanaan riset yang mampu menghasilkan inovasi dan memberikan manfaat nyata bagi ekosistem pendidikan tinggi.

Dukungan tersebut bersumber dari Dana Abadi Penelitian yang dikelola LPDP sehingga pelaksanaan program harus tetap mengedepankan prinsip penelitian yang sistematis, akuntabel, dan berorientasi pada dampak.

Baca juga: Kemdiktisaintek gandeng Kemendes bangun desa berbasis sains teknologi

"Kami dari LPDP berkomitmen untuk mendanai kegiatan ini. Karena didanai dari Dana Abadi Penelitian, sesuai tata kelola, kegiatan ini harus merupakan kegiatan riset," ujarnya.

Lebih lanjut Ayom menyampaikan harapannya agar Program Satria dapat menghasilkan berbagai terobosan pembelajaran, termasuk pengembangan bahan ajar inovatif serta pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi perguruan tinggi.

Diketahui, Program Satria menyediakan pendanaan maksimal Rp200 juta untuk setiap usulan termasuk pajak, dengan mekanisme penyaluran bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.

Pelaksanaan riset direncanakan berlangsung pada Desember 2026 hingga September 2027 disertai pemantauan, pendampingan, dan evaluasi secara berkala.

Luaran program mencakup model pembelajaran transformatif yang telah diimplementasikan dan diuji, publikasi ilmiah, buku referensi ber-ISBN, perangkat pembelajaran, dokumentasi video, serta kekayaan intelektual.

Baca juga: Kemdiktisaintek-LPDP perkuat pendanaan riset dan pengembangan talenta

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sean Filo Muhamad

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira