Lombok Timur (ANTARA) - Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan seminar dan pameran teknologi pangan Asia Tenggara yang digelar pada 11–12 November mendatang.

"Kegiatan itu digelar di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur," ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur M Juaini Taofik di Lombok Timur, Selasa.

Ia mengatakan kegiatan tersebut akan menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar teknologi pangan dari berbagai negara. Salah satu pembicara merupakan guru besar dari perguruan tinggi di Jepang.

Baca juga: UGM kumpulkan pemuda Indonesia dalam forum Rembug Pangan Orang Muda

Selain seminar dan pameran, Bupati Lombok Timur Haerul Warisin juga akan membuka ekspo UMKM dan berencana berdialog langsung dengan para pelaku usaha di lokasi kegiatan.

"Kegiatan ini menjadi momentum untuk mendorong hilirisasi pangan. Kita ini daerah tropis yang memiliki banyak potensi pangan lokal," katanya.

Namun, selama ini masyarakat lebih banyak menjual komoditas tersebut dalam bentuk bahan mentah.

Menurutnya, teknologi pangan dapat meningkatkan nilai jual berbagai komoditas lokal, mulai dari dedaunan, umbi-umbian hingga bagian tanaman lainnya.

"Pengolahan yang tepat berpeluang menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Selama ini kita hanya tahu bahan mentahnya saja. Bagaimana kalau itu diolah dengan teknologi pangan yang memadai, itu pasti akan sangat menguntungkan," ujarnya.

Ia berharap kehadiran akademisi dari berbagai negara dapat membuka peluang pengembangan produk pangan lokal. Tidak hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri, tetapi juga menembus pasar Asia Tenggara.

Ia mencontohkan Thailand yang selama ini cukup kuat dalam pengembangan teknologi pangan di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, Lombok Timur perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan potensi pangan lokal kepada pasar yang lebih luas.

Baca juga: RI-Iran sepakat perkuat kemitraan teknologi baru, ketahanan pangan

Baca juga: Dukung ketahanan pangan, Kemen PU pasang teknologi Sibervina di Jakbar

"Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkenalkan potensi pangan lokal kepada pasar yang lebih luas, termasuk pasar Asia Tenggara," katanya.

Ia menegaskan kegiatan tersebut tidak boleh berhenti pada seminar dan pameran. Perguruan tinggi perlu menindaklanjuti hasil kajian melalui inovasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Menurutnya, akademisi memiliki peran penting dalam mengembangkan teknologi pengolahan pangan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mendorong inovasi tersebut hingga menjadi produk komersial.

"Guru besar bisa membuat inovasi-inovasi. Lalu bagaimana inovasi itu diwujudkan, setelah berwujud, tugas kami selanjutnya bagaimana memasarkannya dan memassalkan produk tersebut," katanya.

Pewarta: Akhyar Rosidi
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Akhyar Rosidi

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira