Jakarta (ANTARA) - Produsen otomotif asal China, kembali meramaikan pasar otomotif Indonesia di sektor komersial elektrik melalui Forland yang dipayungi oleh PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS).

Presiden Direktur PT Tangguh Utama Sejahtera Jin Hong Lin mengatakan bahwa kendaraan komersial di segmen elektrifikasi masih memiliki peluang yang cukup luas, karena penetrasinya masih di bawah satu persen, meskipun kendaraan listrik penumpang telah mencapai sekitar 20 persen.

“Ini bukan sekadar peluang bisnis, melainkan kesempatan strategis untuk membentuk pasar sejak awal,” kata Jin Hong Lin di Jakarta, Selasa.

Kehadiran merek yang merupakan bagian dari MAS Group tersebut menyasar kebutuhan elektrifikasi armada komersial, terutama di tengah pertumbuhan sektor logistik dan perdagangan digital yang membutuhkan kendaraan distribusi efisien.

Baca juga: Periklindo dorong insentif kendaraan komersial listrik

Pada fase awal ini, Forland memperkenalkan sejumlah kendaraan listrik dengan pendekatan berdasarkan kebutuhan operasional.

Untuk platform ET5, pilihan kendaraan mencakup pikap, mobil boks, boks aluminium, kendaraan rantai dingin, hingga angkutan kota.

Sementara itu, platform EL5e disiapkan untuk kebutuhan pekerjaan menengah dan konstruksi perkotaan, termasuk truk jungkit listrik (electric dump truck) serta truk pengangkut kontainer (arm roll truck).

Untuk kebutuhan distribusi perkotaan dan pengiriman barang harian, Forland turut menghadirkan kategori van melalui model U7 dan U9.

CEO Forland International Dong YongSheng mengatakan pengalaman manufaktur perusahaan selama satu dekade terakhir menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan pasar kendaraan niaga listrik di Indonesia.

Namun, adopsi kendaraan listrik komersial tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk. Kesiapan layanan purnajual, suku cadang, dan infrastruktur pengisian daya juga menjadi faktor penting bagi pengelola armada.

Baca juga: Kia perluas portofolio kendaraan komersial melalui PV5 Chassis

Untuk mendukung hal tersebut, TUS mengandalkan jaringan MAS Group yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri otomotif nasional dalam penyediaan layanan teknis dan suku cadang.

Perusahaan itu juga menjalin kemitraan dengan StarCharge untuk infrastruktur pengisian daya dan CRRC untuk teknologi sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS). Integrasi energi surya turut disiapkan sebagai bagian dari ekosistem energi.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan niaga listrik membutuhkan dukungan infrastruktur dan layanan operasional, bukan hanya peralihan teknologi dari mesin pembakaran internal ke tenaga baterai.

Baca juga: JAC usung kendaraan komersial EV dalam Mining Indonesia 2026 di JIExpo

Baca juga: Isuzu jadi satu-satunya produsen mobil komersial seluruhnya ber-TKDN

Baca juga: Wujud komitmen Fuso dalam industri transportasi di Indonesia

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Source: ANTARA · Chairul Rohman

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira