Jakarta (ANTARA) - Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update (CARES) 2026 menjadi forum bagi profesional di bidang kardiovaskular untuk membahas pengambilan keputusan medis di tengah perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular, guna memastikan agar tindakan paling tepat yang diambil.
Ketua CARES 2026 dr. Emanoel Oepangat mengatakan di Jakarta, Selasa, perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular yang semakin pesat menghadirkan lebih banyak pilihan dalam diagnosis maupun terapi penyakit jantung.
"Namun, banyaknya pilihan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi tenaga medis: bagaimana menentukan pemeriksaan yang tepat, kapan melakukan intervensi, dan bagaimana memilih penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien," katanya.
Menurutnya, forum itu menjadi relevan, di tengah tingginya beban penyakit kardiovaskular di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi sebesar 30,8 persen pada penduduk usia 18 tahun ke atas berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, sementara hanya 8,6 persen yang pernah didiagnosis oleh dokter.
"Di tingkat layanan, Kementerian Kesehatan juga mencatat estimasi hampir 700 ribu serangan jantung per tahun di Indonesia dan mempertanyakan seberapa besar pasien penyakit jantung koroner telah mendapatkan pelayanan sesuai pedoman praktik klinis yang baik," ujarnya.
Baca juga: Jangan biarkan Jantung terlambat bicara
Karena itu, katanya, melalui CARES 2026, pihaknya ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membahas perkembangan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam pengambilan keputusan klinis.
CARES 2026 membahas tiga area klinis, yaitu Valvular Heart Disease melalui tema “The Valve at the Crossroads: From Diagnosis to Definitive Intervention,” Chronic Venous Disease dengan tema “Uncovering Venous Disease: Recognising and Managing Chronic Venous Disease,” serta Atrial Fibrillation melalui pendekatan berbasis kasus dalam “Beyond the Irregular Beat: A Case-Based Journey Through Atrial Fibrillation.”
Sementara itu, sesi workshop menghadirkan pembahasan yang lebih aplikatif, mulai dari Lipid Masterclass, Emergency ECG for GP, Basic WSD Workshop, PFO Associated Stroke, hingga Modern PCI yang membahas penggunaan FFR dan IVUS bagi tenaga cathlab.
Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital dr. Ridwan Tjahjadi Lembong menegaskan bahwa pengembangan layanan kardiovaskular tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi dan pengetahuan terbaru, tetapi juga membutuhkan kolaborasi serta kemampuan tenaga medis untuk menentukan langkah terbaik bagi setiap pasien.
Baca juga: PERKI: Serangan jantung juga mengancam kelompok usia muda
“Kemajuan ilmu dan teknologi kardiovaskular membuka semakin banyak kemungkinan dalam penanganan pasien. Namun, nilai dari setiap kemajuan tersebut ditentukan oleh bagaimana kita menggunakannya secara tepat dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, kondisi individual pasien, serta diskusi lintas disiplin," katanya.
Melalui CARES 2026, pihaknya Heartology ingin mendorong ruang belajar dan bertukar pengalaman yang membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis secara lebih terarah, sekaligus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas layanan kardiovaskular di Indonesia.
Simposium dan workshop CARES 2026 dirancang untuk menjembatani clinical knowledge dengan clinical application yang akan membawa peserta dari pertanyaan “apa yang kita ketahui?” menuju pertanyaan yang lebih penting dalam praktik: “apa yang harus kita lakukan terhadap pasien di hadapan kita?”
Melalui forum ini, Heartology berharap pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarprofesi dapat membantu memperkecil kesenjangan antara perkembangan ilmu dengan penerapannya di lapangan, sekaligus memperkuat jejaring layanan kardiovaskular di Indonesia.
Baca juga: Obesitas picu gangguan jantung hingga fibrilasi atrium
Baca juga: Australia rilis platform data penyakit kardiovaskular
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira