Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menegaskan diplomasi maritim perlu terus diperkuat untuk menjaga kedaulatan, melindungi hak-hak maritim, dan menjadikan laut sebagai sumber persatuan serta kesejahteraan rakyat Indonesia.
Arrmanatha mengatakan, gagasan laut sebagai pemersatu bangsa yang diperjuangkan diplomat, akademisi, dan negarawan Mochtar Kusumaatmadja menjadi landasan penting bagi pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan dalam hukum internasional.
Gagasan tersebut diperjuangkan melalui diplomasi yang gigih dan konsisten hingga memperoleh pengakuan dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) pada 1982.
"Pemikiran beliau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai bangsa, yaitu cara kita memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah," kata Arrmanatha dalam diskusi daring bertajuk "Rediscovering Indonesian Diplomacy: Legacy and Future Vision Towards Golden Indonesia 2045" di Jakarta, Kamis.
Menurut Arrmanatha, perjuangan Mochtar menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya mengikuti aturan internasional yang ditetapkan negara lain, tetapi juga berperan aktif membentuk norma dan aturan internasional demi kepentingan nasional.
Keberhasilan memperoleh pengakuan sebagai negara kepulauan melalui UNCLOS 1982, lanjutnya, menjadi pelajaran bahwa kekuatan diplomasi terletak pada gagasan yang diperjuangkan secara konsisten.
Karena itu, Arrmanatha menegaskan, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan pemikiran Mochtar dengan menjaga kedaulatan Indonesia, melindungi hak-hak maritim, serta menegakkan hukum internasional, termasuk UNCLOS.
"Kita akan memastikan laut menjadi sumber persatuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia," katanya.
Arrmanatha menambahkan, perjuangan Mochtar juga mengajarkan pentingnya diplomasi yang berpegang teguh pada prinsip. Diplomasi tidak semata-mata mengejar hasil jangka pendek, tetapi harus berpijak pada kepentingan nasional dan cita-cita bangsa.
Prinsip tersebut, menurut dia, sejalan dengan konstitusi dan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Dengan berpegang pada prinsip itu, Indonesia dapat membangun hubungan persahabatan dengan banyak negara sekaligus memperluas ruang diplomasi untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto, "seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak", untuk menekankan pentingnya membangun jejaring persahabatan internasional.
Arrmanatha mengatakan, diplomasi juga perlu berkontribusi terhadap ketahanan nasional, memperkuat perekonomian, dan membuka peluang bagi kemajuan bangsa.
"Karena Indonesia yang kuat di dalam negeri akan lebih mampu berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia," katanya.
Dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045, Arrmanatha menilai Indonesia perlu meneruskan semangat Mochtar, terutama keberanian untuk berpikir jauh ke depan di tengah perubahan dunia.
Ia menegaskan, diplomasi Indonesia ke depan harus tetap teguh pada prinsip, adaptif terhadap perubahan, serta mampu melahirkan gagasan baru yang memberikan manfaat nyata bagi bangsa.
"Mochtar telah membantu membentuk Indonesia yang kita kenal hari ini. Ke depan adalah tanggung jawab kita bersama untuk meneruskan semangat dan pemikirannya dalam membentuk masa depan Indonesia," kata Menlu.
Baca juga: Menata ulang visi maritim dan peran Indonesia dalam IOC
Baca juga: Indonesia perkuat peran dalam diplomasi maritim di kancah global
Pewarta: Katriana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Katriana
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira