Praktik pengoplosan beras SPHP menjadi beras premium secara ilegal menciptakan distorsi pasar yang serius

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menyoroti dugaan pengoplosan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium yang dinilai merugikan konsumen.

“Praktik pengoplosan beras SPHP menjadi beras premium secara ilegal menciptakan distorsi pasar yang serius,” kata Christiany dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menilai manipulasi beras bersubsidi tersebut merupakan pelanggaran terhadap ketentuan tata niaga yang merugikan masyarakat berpenghasilan rendah serta mengganggu struktur pasar beras nasional.

Menurut dia, Komisi VI DPR RI memandang program SPHP bukan sekadar instrumen bantuan sosial, melainkan bagian dari strategi tata niaga nasional untuk menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya kelompok desil 1–5.

Baca juga: Bulog periksa 2.000 RPK serentak cegah penyalahgunaan beras SPHP

Christiany mengatakan praktik tersebut dapat mendorong kenaikan harga beras di tingkat eceran dan menghilangkan hak konsumen untuk memperoleh beras bersubsidi dengan harga terjangkau.

Ia menyoroti ketimpangan harga dan alur distribusi berdasarkan temuan inspeksi mendadak Kementerian Pertanian bersama kepolisian. Beras SPHP yang mendapat subsidi negara sebesar Rp6.000 per kilogram dan seharusnya dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram diduga dialihkan ke jalur perdagangan premium dengan harga Rp17.000 per kilogram.

Temuan beras tersebut mencapai 600 ton di Rumah Beras Kayumanis, Matraman, serta berpotensi mencapai ribuan ton di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Christiany menyebut praktik itu diduga menghasilkan keuntungan ilegal sebesar Rp4.500 per kilogram.

Baca juga: Mentan Amran: Temuan beras SPHP dioplos bukti mafia pangan ada

Lebih lanjut, Christiany mendorong penguatan pengawasan di sepanjang rantai pasok serta meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menindaklanjuti dugaan persaingan usaha tidak sehat dan pelanggaran hak konsumen.

Ia juga meminta Perum Bulog dan distributor resmi memperketat audit internal terhadap sistem distribusi SPHP untuk mencegah beras bersubsidi dialihkan kepada spekulan atau pihak yang mengambil keuntungan secara ilegal.

Christiany mengimbau Kementerian Perdagangan bersama seluruh pemangku kepentingan meningkatkan pengawasan pasar secara berkala guna menjaga tata niaga bahan pokok.

Ia menegaskan Komisi VI DPR RI akan menggunakan fungsi pengawasannya untuk memanggil pihak-pihak terkait guna memastikan distribusi beras bersubsidi berjalan adil, transparan, dan terbebas dari praktik penyimpangan.

Baca juga: Mentan Amran: Oplos beras SPHP ancam stabilitas harga pangan nasional

Baca juga: Mentan Amran minta pengoplos beras SPHP ditindak maksimal

Baca juga: Dua tersangka penyalahgunaan beras subsidi di NTB terancam lima tahun

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Fianda Sjofjan Rassat

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira