Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengingatkan masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang mampu menempatkan persatuan di atas perbedaan.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang maju, tetapi potensi tersebut perlu didukung oleh semangat kebersamaan dan kepedulian antarsesama.

"BNPT hadir untuk mengawal generasi masa depan, karena Indonesia memiliki segala potensi besar untuk maju dan menjadi bangsa yang unggul ke depan. Maka, harus utamakan persatuan," kata Eddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan pesan itu menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar.

Dikatakan bahwa menghormati teman yang berbeda keyakinan atau latar belakang, tidak mengejek orang lain, mau mendengarkan pendapat yang berbeda hingga berani menolak perundungan merupakan bagian dari upaya merawat persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Dia menegaskan berbeda suku, berbeda kebiasaan, atau berbeda pendapat bukan alasan untuk saling menjauh.

"Justru dari perbedaan, setiap orang bisa belajar memahami satu sama lain, membangun persahabatan, dan menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan damai," ungkapnya.

Semangat tersebut telah diberikan kepada para pelajar saat mengikuti Kemah Kebangsaan BP2M bertema "Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan", di Jakarta, Selasa (20/10).

Dalam kesempatan itu, Eddy mendorong para peserta menjadikan Kemah Kebangsaan sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, menjunjung keadilan, serta membiasakan dialog ketika menghadapi perbedaan.

Ia menegaskan diskriminasi dan kekerasan tidak boleh menjadi cara untuk menyelesaikan persoalan.

Sementara itu, salah seorang perwakilan pelajar yang mengikuti kegiatan, Biru mengaku ingin membawa pengalaman dan pelajaran dari kemah tersebut ke lingkungan sekolah, terutama dalam membangun pertemanan yang lebih saling menghargai.

"Setelah kegiatan ini saya akan lebih menghargai perbedaan yang ada di lingkungan kelas maupun sekolah seperti perbedaan suku," tutur Biru.

Dia juga mengajak sesama pelajar untuk menjauhi berbagai bentuk kegiatan negatif seperti perundungan (bullying), kekerasan fisik serta tindakan yang dapat merusak mental sesama teman.

Pengalaman tersebut menunjukkan pendidikan kebangsaan bukan hanya tentang menghafal nilai-nilai Pancasila atau memahami semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Lebih dari itu, nilai kebangsaan perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara berbicara, menggunakan media sosial, menyikapi perbedaan pendapat, dan memperlakukan orang lain.

Di tengah derasnya arus informasi digital, pelajar juga perlu membiasakan diri untuk tidak mudah terpancing provokasi, tidak ikut menyebarkan kebencian, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

BNPT menekankan sikap kritis dan bijak dalam bermedia digital merupakan bagian penting dari upaya menjaga hubungan yang sehat di tengah masyarakat yang beragam.

Melalui kegiatan seperti Kemah Kebangsaan, BNPT mendorong generasi muda untuk menjadi bagian dari solusi dalam menjaga persatuan bangsa.

Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar nilai toleransi, keadilan, dan antikekerasan tidak berhenti sebagai pesan dalam sebuah kegiatan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan.

Disebutkan bahwa merawat kebinekaan bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh bangsa.

Setiap pelajar memiliki peran yang sama pentingnya, dimulai dari lingkungan terdekat, yakni menghargai teman, menolak perundungan, berani membela yang diperlakukan tidak adil, dan memilih dialog daripada permusuhan.

Dari berbagai langkah sederhana itu, generasi muda dapat ikut menjaga Indonesia tetap rukun, kuat, dan bersatu di tengah segala perbedaan.

Baca juga: BNPT latih 250 pelajar cegah radikalisme lewat medsos dan gim daring

Baca juga: Kepala BNPT ajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek jadi agen perdamaian

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Agatha Olivia Victoria

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira