Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A menyampaikan langkah preventif hingga asupan yang perlu diperhatikan guna mencegah risiko kesehatan di musim peralihan.
Menurut dia, dalam pencegahan tersebut yang paling penting sebenarnya dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
“Pastikan anak mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan yang matang dan air minum yang aman, serta tidak jajan sembarangan,” kata Aisya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Dalam langkah preventif itu, Aisya juga mengatakan orang tua perlu menjaga kebersihan rumah, membersihkan tempat penampungan air secara rutin, menutup tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan menggunakan perlindungan antinyamuk sesuai usia anak.
Baca juga: Asupan nutrisi yang perlu diperhatikan pada anak alergi protein susu
“Jika lingkungan mengalami banjir, sebisa mungkin hindari anak bermain di air banjir atau genangan yang kotor. Air tersebut bisa terkontaminasi berbagai kuman,” ujar dia.
Asupan nutrisi juga menjadi hal penting, kata Aisya, dengan memberikan makanan bergizi seimbang sesuai usia anak, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah.
Protein bisa diperoleh dari telur, ikan, ayam, daging, tahu, atau tempe. Selain itu, kebutuhan cairan anak juga harus terpenuhi.
Sementara itu, pada bayi asupan ASI tetap diberikan sesuai kebutuhan, dan MPASI diberikan sesuai usia mulai sekitar enam bulan. Anak juga perlu tidur cukup, beraktivitas fisik secara teratur sesuai kondisi, serta mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
“Jadi, bukan satu jenis makanan atau minuman tertentu yang bisa mencegah semua penyakit, melainkan kombinasi gizi yang baik, kebersihan, imunisasi, istirahat, dan lingkungan yang sehat,” tutur dia.
Aisya juga mengemukakan bahwa tidak semua anak memerlukan tambahan vitamin hanya karena memasuki musim hujan. Dalam hal ini, apabila anak sehat, tumbuh dengan baik, dan kebutuhan gizinya tercukupi melalui makanan yang beragam, suplemen tambahan umumnya tidak diperlukan secara rutin hanya untuk mencegah infeksi.
Pada kondisi tertentu, vitamin D, zat besi, atau mikronutrien lain memang dapat dibutuhkan sesuai usia, pola makan, faktor risiko, dan pedoman klinis yang berlaku.
Ia mengingatkan bahwa vitamin bukan pengganti makanan bergizi dan bukan jaminan anak tidak akan sakit. Pemberian vitamin dalam dosis berlebihan justru dapat menimbulkan efek samping.
“Vitamin A dan D, misalnya, termasuk vitamin larut lemak yang dapat menumpuk dalam tubuh bila dikonsumsi berlebihan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan berbagai suplemen sekaligus tanpa mengetahui kandungan dan dosisnya,” ujar Aisya, Dosen Fakultas Kedokteran UNS itu.
Lebih lanjut, Aisya menekankan apabila anak sulit makan, berat badannya tidak naik dengan baik, atau dicurigai mengalami kekurangan zat gizi, orang tua sebaiknya perlu berkonsultasi dengan dokter anak agar pemberiannya sesuai kebutuhan.
Sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai dari dampak peralihan musim kemarau ke hujan terhadap kesehatan anak, kata Aisya, antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti batuk, pilek, dan influenza.
Kemudian, diare akibat makanan atau air yang terkontaminasi, serta demam berdarah dengue (DBD) yang risikonya dapat meningkat ketika terdapat banyak genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
Baca juga: DKI terus tingkatkan cakupan imunisasi anak agar capai 90 persen
Baca juga: Musim pancaroba, warga Jakarta diimbau waspada DBD
Baca juga: Perawakan pendek anak tak selalu karena masalah nutrisi
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sri Dewi Larasati
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira