Badung (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan pentingnya perawatan diri (self-care) dan pengobatan mandiri yang bertanggung jawab sebagai pilar utama dalam menjaga kesehatan masyarakat Indonesia.

“Perawatan diri ini menjadi pilar utama di Indonesia untuk kesehatan dan kesejahteraan karena kita ingin setiap masyarakat, setiap individu, mereka sadar dan mengambil peran yang lebih aktif dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka," kata Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia.

Hal ini disampaikan Rizka dalam Konferensi Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit di Kabupaten Badung, Bali, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa kesadaran masyarakat untuk mengelola gejala ringan dan menjaga kesejahteraan secara mandiri meningkat pascapandemi COVID-19 serta di tengah isu perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Untuk mendukung hal tersebut, Kemenkes menerapkan program pemeriksaan kesehatan gratis yang telah menjangkau 70 juta populasi pada tahun 2025 lalu dan menargetkan 130 juta populasi pada tahun ini.

Melalui deteksi dini risiko penyakit tersebut, masyarakat diharapkan dapat memahami status kesehatan dengan lebih baik serta mengambil tindakan pencegahan dan perawatan diri yang tepat.

Rizka mengungkapkan bahwa proporsi pengeluaran pribadi (out-of-pocket spending) masyarakat untuk perawatan kesehatan di Indonesia masih signifikan yakni sebesar 27 persen, yang di dalamnya mencakup pengobatan mandiri.

"Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa setiap rupiah yang mereka belanjakan untuk perawatan diri digunakan untuk membeli produk yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau," ujarnya.

Pemerintah memandang bahwa pembuatan ekosistem perawatan diri yang baik membutuhkan pergerakan bersama dari seluruh elemen pemangku kepentingan baik pemerintah, industri, tenaga kesehatan, regulator, akademisi, dan masyarakat harus bergerak maju bersama-sama.

Namun Kemenkes mengakui pengetahuan literasi kesehatan masyarakat yang masih beragam merupakan tantangan.

Untuk meningkatkan literasi kesehatan tersebut, maka Kemenkes menjalankan program mitigasi dengan menggunakan konsep agen perubahan (agents of change) di beberapa komunitas terpilih untuk mengedukasi cara membaca resep, membaca label, menggunakan, menyimpan, hingga membuang obat.

Kemenkes juga melakukan pembangunan kapasitas bagi personel di swalayan yang diperbolehkan menjual obat bebas dan obat bebas terbatas agar dapat memberikan informasi yang benar kepada konsumen.

Selain itu, literasi kesehatan juga dikenalkan kepada anak-anak sejak dini di sekolah serta disebarluaskan melalui konten sederhana di media sosial resmi milik Kemenkes.

Terkait pentingnya perawatan diri ini, Perwakilan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) sekaligus Chairman APSMI Rachmadi Joesoef menyampaikan bahwa lebih dari 78 persen masyarakat Indonesia melaporkan melakukan pengobatan mandiri pada tahun 2025.

Menurut riset Global Self-Care Federation (GSCF), perawatan diri menghasilkan penghematan sistem kesehatan tahunan sebesar 144 miliar dolar AS secara global.

"Perawatan diri yang bertanggung jawab dapat menciptakan nilai kesehatan, sosial, dan ekonomi yang signifikan dengan membantu masyarakat mengelola kebutuhan kesehatan harian secara tepat, sekaligus mengurangi tekanan yang seharusnya dapat dihindari pada sumber daya layanan kesehatan," kata Rachmadi Joesoef.

Ia menambahkan bahwa APSMI telah membentuk kelompok kerja khusus mengenai penyederhanaan regulasi (regulatory streamlining) dan kesehatan digital (digital health) untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat.

"Isu hangat untuk kami adalah bagaimana kita menyediakan aksesibilitas kepada masyarakat luas terhadap perawatan diri dengan informasi yang benar, produk yang tepat, serta harga yang tetap terjangkau," ujar Rachmadi Joesoef.

Baca juga: Menkes: 7 jenama besar sudah terapkan Nutri-level untuk minumannya

Baca juga: Menkes sebut estimasi Tb RI turun karena gencarnya skrining

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ni Putu Putri Muliantari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira