Medan (ANTARA) - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii mengatakan, kesehatan santri adalah hak konstitusional setara dengan warga negara lainnya, termasuk dalam program Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB).

"Program Pesantren Bebas TB ini wujud sinergi pemerintah memperluas deteksi dini, pencegahan, dan penanganan tuberkulosis di lingkungan pondok pesantren," ujar Romo di hadapan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara pada peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas TB sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mawaridussalam di Desa Tumpatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu.

Wamenag mengatakan, lebih dari 40 ribu pesantren dengan jutaan santri maupun santriwati di seluruh Indonesia membutuhkan perhatian serius dalam aspek kesehatan.

Program ini, lanjut Romo, menjadi langkah strategis memperkuat pencegahan dan penanggulangan TB di lingkungan pondok pesantren, sekaligus memastikan para santri dan santriwati di tanah air mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak dan memadai.

Baca juga: Wamenkes: Indonesia tempati urutan kedua kasus Tb terbanyak di dunia

"Ini sejalan dengan cita-cita mulia Bapak Presiden Prabowo melalui Asta Cita Keempat, yaitu pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan," paparnya.

Menurut dia pelaksanaan program ini diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis bagi santri agar pemeriksaan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak warga pesantren.

"Kita ini satu tim. Tidak ada keberhasilan individual, yang ada keberhasilan bersama. Tidak ada keberhasilan yang dicapai sendiri-sendiri. Tidak boleh ada kementerian yang bekerja sendiri-sendiri,” ucap Romo.

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan bahwa kesehatan masih menjadi tantangan kompleks di lingkungan pondok pesantren.

Baca juga: Menko Muhaimin ajak pesantren cetak wirausaha tangguh dan mandiri

Dari sekitar 40 ribu pesantren di Indonesia, kata dia, belum banyak yang memiliki klinik maupun poliklinik dengan dukungan tenaga medis profesional.

"Karena itu, kolaborasi lintas kementerian bertujuan memperkuat fasilitas kesehatan, mengadakan penyuluhan rutin dengan melibatkan puskesmas, dan memastikan santri memperoleh pelayanan medis tanpa terkendala persoalan domisili,” ucap Basnang Said.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara Ahmad Qosbi mengaku bersyukur karena Sumatera Utara terpilih menjadi tuan rumah peluncuran program Pesantren Bebas TB.

Pihaknya mengapresiasi terobosan luar biasa Romo Muhammad Syafii sebagai tokoh yang peduli terhadap pondok pesantren.

"Kami sangat mengapresiasi terobosan Bapak Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii yang senantiasa menunjukkan kepedulian nyata terhadap kemajuan dan kesejahteraan pesantren," ujar Qosbi.

Baca juga: Pemerintah luncurkan program Pesantren Bebas TB perkuat pencegahan

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Muhammad Said

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira