Jakarta (ANTARA) - Universitas Kristen Indonesia (UKI) bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia mengajak mahasiswa untuk memperkuat kepedulian dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kemanusiaan dengan persoalan pengungsi.
"Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kemanusiaan," kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKI Elferida Sormin di UKI Jakarta Timur, Jumat.
Hal tersebut diwujudkan melalui seminar internasional bertajuk "Peduli Pengungsi: Mengapa Kita Perlu Hadir?" yang sekaligus digelar dalam rangka Dies Natalis ke-73 UKI.
Menurut Elferida, kegiatan yang ditargetkan diikuti sekitar 300 mahasiswa dari berbagai fakultas itu dapat membangun pemahaman yang lebih terbuka terhadap keberadaan pengungsi di tengah masyarakat.
Seminar tersebut juga menjadi momentum penguatan kerja sama UKI dan JRS Indonesia yang telah berlangsung sejak 2024, yang ditandai dengan penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara perwakilan JRS Indonesia dan sejumlah program studi di UKI.
Sementara itu, Project Coordinator JRS Bogor Zainuddin menyoroti perkembangan persepsi negatif terhadap pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya yang kerap dipengaruhi kepentingan dan perdebatan politik.
Maka dari itu, dia menekankan pentingnya pendidikan dan dialog untuk membangun perspektif masyarakat yang lebih adil dan berlandaskan nilai kemanusiaan.
Baca juga: UKI-BPIP bahas penguatan etika nasional lewat Pusat Studi Pancasila
Selain itu, Zainuddin juga mengapresiasi kerja sama dengan UKI yang telah memasuki tahun ketiga. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi sukarelawan maupun melakukan penelitian mengenai isu pengungsi.
Kegiatan seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Carolina Ramanita Wara Ola dari JRS Indonesia, Mohammad Asadi, pengungsi asal Afghanistan yang mengembangkan komunitas olahraga Beyond Club, dan dosen Fakultas Sastra dan Bahasa UKI Susanne AH Sitohang.
Dalam paparannya, Carolina menjelaskan situasi pengungsi dan kerangka hukum penanganannya di Indonesia.
Dia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pengungsi, mulai dari keterbatasan kesempatan kerja formal, akses pendidikan dan kesehatan, hingga ketidakpastian masa depan akibat proses penempatan kembali ke negara ketiga yang dapat berlangsung lama.
Lebih lanjut, Mohammad Asadi menuturkan pengungsi tidak hanya membutuhkan perlindungan, tetapi juga memiliki kemampuan dan potensi untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Di sisi lain, Susanne AH Sitohang melalui materinya mengajak mahasiswa untuk melihat pengungsi sebagai sesama manusia yang memiliki martabat, harapan, dan pengalaman hidup.
Dia juga mendorong mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan membangun kepedulian melalui perjumpaan langsung dengan para pengungsi.
Dalam kesempatan itu, Susanne turut memaparkan perjalanan kolaborasi UKI dan JRS Indonesia sejak 2024, yang telah menghasilkan berbagai kegiatan, antara lain pendampingan anak-anak pengungsi, program literasi dan budaya, serta pelatihan keterampilan bagi komunitas pengungsi.
Baca juga: UKI luncurkan visi EMAS perkuat dampak bagi masyarakat
Baca juga: Rektor UKI dorong inovasi kurikulum dan kolaborasi periode 2026-2030
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Siti Nurhaliza
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira