Manokwari (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) mengembangkan kartu bantu integrasi layanan primer (ILP) digital berbasis hibrida agar pencatatan dan penghitungan hasil pengukuran kesehatan dapat dilakukan saat koneksi internet tidak tersedia di Distrik Nikiwar, Teluk Wondama, Papua Barat.

Ketua TEP 19 UI dr Trevino Aristarkus Pakasi dalam keterangan tertulis di Manokwari, Kamis, mengatakan instrumen berbasis hibrida dirancang sesuai kondisi wilayah terpencil serta kebutuhan kader dan tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan maupun memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Kalau pelayanan di kampung, instrumen dapat digunakan secara luring walaupun internet tidak ada. Data kemudian dikirim dan disinkronkan ke server dengan memanfaatkan jaringan Starlink di Puskesmas Nikiwar,” ujarnya.

Dalam demonstrasi, kata dia, instrumen kartu bantu ILP tersebut menampilkan perhitungan otomatis indeks massa tubuh (IMT), nilai Z-score yang mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta kategori status gizi.

Uji coba telah dilakukan di Balai Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar yang melibatkan Koordinator Lapangan TEP 19 UI dr Keliopas Maniagasi beserta anggota tim untuk mengidentifikasi kemungkinan kesalahan pengisian maupun perhitungan.

Baca juga: TEP Unhas petakan tantangan pertanian dan Iklim di Lutim

“Fitur itu dirancang untuk membantu pengguna memahami hasil pengukuran, sedangkan interpretasi dan tindak lanjut kesehatan tetap melibatkan tenaga kesehatan profesional.

Menurut dia, data pemeriksaan dirancang untuk mendukung pemantauan dan tindak lanjut oleh puskesmas, kader penanggung jawab, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama sesuai peran dan kewenangan masing-masing.

Ada tiga sekolah di Distrik Nikiwar yang disiapkan menjadi sekolah pertama di Kabupaten Teluk Wondama untuk menerapkan sistem kartu bantu ILP melalui kolaborasi sekolah, kader, dan tenaga kesehatan.

“Guru yang ditugaskan juga dapat memperoleh akses untuk memantau kesehatan siswa dengan tetap memperhatikan kerahasiaan dan perlindungan informasi pribadi,” ujarnya.

Baca juga: TEP ITB dampingi warga transmigrasi Paser olah singkong menjadi mocaf

Dia menyebut bahwa penerapan teknologi itu diharapkan membantu pemantauan pertumbuhan maupun status gizi anak usia sekolah, dan berpotensi dikembangkan untuk memantau pertumbuhan bayi dan balita menggunakan indikator antropometri.

Indikator yang dimaksud mencakup berat badan menurut umur, panjang atau tinggi badan menurut umur, berat badan menurut panjang atau tinggi badan, serta indeks massa tubuh menurut umur.

“Namun, fitur untuk bayi dan balita masih memerlukan pengembangan algoritma, pengujian, serta validasi sebelum digunakan dalam pelayanan rutin,” ujarnya.

Bupati Teluk Wondama Elysa Auri mengapresiasi TEP UI yang telah mengembangkan instrumen karena merupakan inovasi baru dan meminta Dinas Kesehatan Teluk Wondama mempelajarinya lebih lanjut agar implementasi bisa dilakukan menyeluruh.

Baca juga: Kementrans-TEP UGM uji pemasaran produk unggulan dari Muting Merauke

Baca juga: TEP UI padukan layanan posyandu dengan kesehatan gigi di Werabur

Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Fransiskus Salu Weking

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira