Kadang saya memang ingin memperjuangkan sebuah film, sampai setiap juri pasti kesal sama saya
Tokyo (ANTARA) - Sebagai ketua juri kompetisi di Tokyo International Film Festival 2026, sutradara Australia Rolf de Heer mengutamakan pengalaman emosional dalam menilai 15 film dari berbagai negara, salah satunya "Merah Sebelum Fajar" dari Garin Nugroho.
"Yang paling penting buat saya adalah perasaan yang tertinggal saat saya meninggalkan bioskop, yang saya rasakan, bukan yang saya pikirkan," kata Heer dalam konferensi pers juri kompetisi di Tokyo, Selasa.
Rolf de Heer tidak sendirian menilai film-film dalam kompetisi utama. Ia ditemani oleh produser Alex Lo yang mendirikan Cinema Inutile, perusahaan produksi berbasis New York dan Tokyo, kemudian produser Oh Jungwan dari Korea Selatan, aktor Jepang Watanabe Makiko yang telah berkiprah di mancanegara, serta DI Colorist Yov Moor yang telah terlibat dalam 200 proyek film dari berbagai negara.
Oh Jungwan menuturkan, sebagai juri ia punya tanggung jawab lebih dari sekadar menikmati sebuah film. Ada berbagai elemen yang harus diperhatikan. Namun, yang menurutnya penting adalah bagaimana seorang sutradara bisa menyampaikan pesan kepada penonton.
"Tentu saja banyak elemen seperti akting dan sinematografi, tapi pada dasarnya adalah apakah cerita yang disuguhkan sutradara bisa meyakinkan saya atau tidak," kata Jungwan.
Sementara itu, Moor yang biasa berada di balik layar juga mencari apakah sebuah film berhasil menyentuh hatinya dan terasa tulus.
Watanabe Makiko, di sisi lain, berusaha menonton tanpa mencari jawaban.
"Saya berusaha 'datar', mencari adakah hal yang berhasil menyentuh saya," kata aktris senior itu.
Para juri mengaku senang ditawari kesempatan untuk menilai 15 film dengan berbagai tema. Bagi Heer, ini adalah momen di mana ia bisa menyaksikan banyak film sekaligus tanpa distraksi
"Sekaligus bercengkerama dengan orang-orang yang seru ini," kata dia merujuk kepada juri lain.
Jungwan, yang sudah dua kali menjadi juri di Tokyo International Film Festival, mengiyakan pendapat Heer. Bisa menyaksikan film-film di bioskop adalah hal yang menyenangkan baginya.
"Saya sebenarnya ingin menonton lebih banyak film Jepang karena beberapa tahun belakangan tidak sempat. Tapi ini kompetisi internasional, jadi saya sadar filmnya lebih beragam," ujar Jungwan.
Sementara itu, Makiko punya sejarah panjang dengan festival film yang telah berdiri sejak 1985. Ia pertama kali ikut serta sebagai aktris pada akhir 1990-an untuk film "M/OTHER". Ketika akhirnya dipilih menjadi juri, Makiko mengaku tegang.
"Oh, saya dipilih? Ini menegangkan. Tapi seperti Rolf bilang, ini kesempatan untuk bisa fokus hanya menonton film sepanjang festival," kata Makiko yang mendirikan platform Mini Theater Park untuk mendukung bioskop independen.
Yov Moor justru merasa terkejut ketika dipercaya menjadi juri. Menurut Moor, jarang seorang colorist mendapatkan tawaran untuk menjadi juri kompetisi film. Colorist adalah profesional yang bertanggung jawab dalam masalah pewarnaan visual pascaproduksi karya visual.
"Saya sangat bangga bisa jadi juri," kata Moor sambil menambahkan bahwa ia ingin mempromosikan profesinya ke masyarakat yang lebih luas.
Hasil kerja Moor bisa dilihat di sejumlah film, termasuk Nouvelle Vague dari Richard Linklater (2025). Sebagai colorist yang mendedikasikan diri untuk menerjemahkan visi sineas menjadi bahasa visual, proyek-proyeknya telah terpilih untuk festival seperti Cannes, Venesia, Berline, Sundance, hingga Toronto.
Colorist yang saat ini menetap di Tokyo itu juga sudah berkolaborasi dengan sutradara-sutradara kawakan seperti Wong Kar-wai, Kurosawa Kiyoshi, Sung Kang, Lee Ping-bin, João Pedro Rodrigues, Pema Tseden, Phuttiphong Aroonpheng, Midi Z, dan Cai Shangjun.
Alex Lo bergurau bahwa semua juri pasti gugup saat mendapat tawaran, kecuali Heer yang menjadi ketua.
"Sebuah anugerah bisa berhari-hari di bioskop, menonton kisah original, saya tidak sabar jadinya," kata Alex dalam bahasa Inggris.
Siap berdebat
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Nanien Yuniar
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira