Cirebon (ANTARA) - Bulir-bulir padi yang menguning dan merunduk memenuhi petak sawah di Desa Geyongan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada pertengahan September 2026. Tanah yang semula retak akibat kemarau kembali basah setelah mendapat pasokan air dari sistem irigasi bertekanan.

Hal itu diceritakan Mashudi, Ketua Forum Petani dan Masyarakat Desa Geyongan, kepada ANTARA pada 29 Oktober. Ia mengaku lega setelah petani di desa itu sempat berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen.

Pria berusia 51 tahun itu telah mengenal pekerjaan bertani sejak kecil. Namun, pengalaman mengolah lahan selama puluhan tahun tidak menghilangkan kecemasannya ketika air semakin sulit diperoleh, terutama ketika kemarau diperparah oleh fenomena El Nino.

"Air itu sangat penting. Bagi kami sudah seperti emas. Bayangkan saja Mas, padi kami sempat keriting daunnya karena kemarau," ujarnya.

Bersama anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Jaya, Mashudi mengelola lahan sekitar 90 hektare. Sebagian besar sawah mengandalkan air hujan sehingga rentan terdampak anomali iklim.

Salah satu sumber pengairan di desa tersebut adalah embung seluas sekitar 4,5 hektare yang melayani 60 hektare lahan. Embung itu memiliki kapasitas tampung 70.400 meter kubik dengan tinggi muka air sekitar 1,56 meter.

Namun, kebocoran yang berlangsung selama sekitar tiga tahun mengurangi fungsi embung. Debit air terus menyusut sehingga pasokannya tidak lagi mencukupi kebutuhan lahan pertanian.

Baca juga: Menjaga keandalan jaringan gas sepanjang 606 km di Jawa bagian barat

Cadangan air mulai berkurang tajam sejak Juni 2026 dan mencapai kondisi terburuk pada Juli. Saat itu, tinggi muka air embung hanya tersisa sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Distribusi air pun harus digilir setiap empat hari dengan jumlah terbatas untuk sawah-sawah di sekitarnya.

Pasokan air dari arah kawasan Giwangan yang berjarak sekitar 18 kilometer juga tidak mampu mengisi embung karena debit sungai terlalu kecil untuk menjangkau lokasi tersebut.

Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Fathnur Rohman

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira