Beijing (ANTARA) - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai mendukung pelaksanaan minyak nabati berkelanjutan dalam kerangka Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Hal itu terkait dengan penyelenggaraan "The 4th Sustainable Vegetable Oils Conference" (SVOC) yang pertama kali digelar di China pada Selasa (27/10) dan dihadiri oleh sekitar 220 peserta dari 11 negara.
Agenda tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor minyak nabati global.
"Penyelenggaraan SVOC di China mencerminkan eratnya hubungan bilateral RI-China dan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor," kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun dalam pernyataan tertulis yang diterima ANTARA di Beijing, pada Kamis.
Kemitraan strategis tersebut, menurut Djauhari, akan menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi berkelanjutan, serta memperkuat rantai pasok global yang inklusif dan tangguh.
Minyak kelapa sawit diketahui sebagai minyak nabati impor terbesar bagi China dan hampir seluruh pasokannya berasal dari negara anggota CPOPC.
CPOPC perlu menjaga pasokan minyak ke China tetap tersedia, salah satunya melalui kerja sama dalam integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong efektivitas produksi.
Baca juga: BRIN: Limbah sawit berpotensi hasilkan listrik 3,9 GW
Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh menyampaikan seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap minyak nabati, CPOPC harus menemukan solusi untuk meningkatkan produktivitas minyak nabati, melalui pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab, dan memastikan rantai pasok yang berkelanjutan.
"Sebanyak 89 persen pasokan minyak kelapa sawit berasal dari negara anggota CPOPC. Sektor kelapa sawit juga menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan pengusaha dan petani kecil di negara produsen," kata Izzana.
Konferensi tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, pemerintah Malaysia, Papua Nugini, Kongo, serta berbagai pelaku usaha di sektor minyak nabati, akademisi, peneliti, dan pihak terkait lain.
Diskusi panel dalam konferensi itu menyoroti pergeseran kebijakan hijau bagi industri kelapa sawit, integrasi teknologi dalam produksi minyak nabati, peningkatan kapasitas petani kecil untuk
produktivitas berkelanjutan hingga pengembangan bahan bakar nabati bagi pembangunan ekonomi rendah karbon.
Konjen RI Shanghai, Berlianto Situngkir, juga menjelaskan penyelenggaraan SVOC di Shanghai memiliki makna strategis karena China merupakan mitra dagang terbesar bagi negara anggota CPOPC, dan Shanghai merupakan pusat ekonomi China dengan keunggulan di sektor keuangan, inovasi teknologi, manufaktur, perdagangan dan konektivitas global.
"Sinergi dari seluruh elemen tersebut akan meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga menjadi kunci untuk membangun ekonomi yang kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global," kata Berlianto.
Baca juga: Kementerian Pariwisata berupaya tarik wisatawan China ke Labuan Bajo
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Desca Lidya Natalia
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira