Jakarta (ANTARA) - Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar mengajak para santri untuk tampil sebagai penggerak perubahan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, integritas moral, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial, politik, serta kebangsaan.

“Santri bukan penonton negeri. Santri harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa, menghadirkan ilmu, akhlak, dan keberanian moral dalam ruang-ruang pengambilan keputusan,” ujar Asep saat peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Jakarta, Kamis.

Rektor Asep menuturkan dalam perspektif pendidikan Islam, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk kepemimpinan profetik yang berpijak pada tiga nilai utama yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Ketiganya, kata dia, mendorong lahirnya manusia yang menghormati martabat sesama, membebaskan masyarakat dari kebodohan dan ketidakberdayaan, serta menjadikan nilai ketuhanan sebagai landasan etika publik.

Menurutnya, santri juga perlu mengambil peran lebih luas dalam pemerintahan, politik, pendidikan, ekonomi, media, dan berbagai sektor strategis lainnya. Kehadiran santri harus membawa nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat.

“Identitas santri harus tercermin dalam tindakan nyata. Kesalehan tidak cukup berhenti pada kehidupan pribadi, tetapi harus hadir dalam perjuangan membangun masyarakat yang adil, berintegritas, dan bermartabat,” katanya.

Dalam konteks kebangsaan, pesantren juga perlu terus memperkuat tradisi dialog, solidaritas sosial, dan keterlibatan masyarakat. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pewaris nilai-nilai luhur, tetapi juga aktor penting dalam membangun Indonesia yang berkemajuan.

"Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa santri bukan sekadar penjaga tradisi, melainkan pemilik masa depan bangsa," kata Rektor Asep.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menegaskan bahwa santri harus memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak boleh merasa kecil serta membatasi diri yang membuat mereka tidak bisa berkembang serta dipandang sebelah mata.

“Di sinilah para santri harus mengambil peran penting. Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri, tidak boleh underconfident, dan tidak boleh merendahkan diri, tapi harus punya semangat juang,” ujar Menag.

Menag mengatakan peran santri saat ini sudah luas. Santri mesti berperan dalam pembangunan bangsa, tidak hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan karakter, kemandirian ekonomi, serta pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga: Bakom: Pesantren jadi tulang punggung peradaban baru RI

Baca juga: Kemenag libatkan penegak hukum hingga influencer di Satgas Safe Santri

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Asep Firmansyah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira