Bandarlampung (ANTARA) - Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., meraih Inovator Award kategori Applied Research and Industrial Impact Award dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.

"Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas konsistensi mengembangkan riset terapan berbasis keanekaragaman hayati hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi bagi industri," kata Rektor Itera itu di Bandarlampung, Jumat.

Ia menyampaikan, tim Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nutraceutical ITB yang dipimpinnya beberapa tahun terakhir mengembangkan teknologi pengolahan bahan alam untuk meningkatkan nilai ekonomi keanekaragaman hayati Indonesia.

"Selama ini, sebagian komoditas masih dijual sebagai bahan mentah dengan harga rendah, meski berpotensi diolah menjadi produk bernilai tinggi," kata dia.

Menurutnya, melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing dan nilai jual jauh lebih tinggi.

"Sebagai contoh, daun tanaman kering yang diekspor seharga 4 dolar AS per kilogram dapat diolah menjadi senyawa murni senilai 2.500 dolar AS per kilogram. Teknologi pengolahan dan pemurnian bahkan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bahan alam hingga 500–1.000 kali lipat, bergantung pada jenis produk," kata dia.

Riset tersebut juga, lanjut dia, menghasilkan senyawa biomarker yang sebelumnya banyak diimpor untuk kebutuhan penelitian dan industri. Produk itu kini dapat diproduksi di dalam negeri melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil riset ITB.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya dapat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga produk yang memiliki nilai komersial, memperkuat kemandirian teknologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Prof. Elfahmi.

Ia pun menegaskan bahwa pengalaman membawa riset hingga tahap komersialisasi menjadi bekal guna memperkuat ekosistem inovasi Itera.

"Kami mendorong penelitian yang menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Lampung, seperti singkong, nanas, dan tebu," kata dia.

Oleh sebab itu, ia pun mengajak para peneliti Itera tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan dan dimanfaatkan masyarakat serta industri.

“Itera memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam transformasi kekayaan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Para peneliti harus terus meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar hasil riset benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian,” ujarnya.

Baca juga: Mendiktisaintek minta Itera perkuat inovasi, jawab kebutuhan Sumatera

Baca juga: Itera raih dukungan Internasional dalam pelestarian kantong semar

Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Dian Hadiyatna

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira