Penelitian ini mencatat rata-rata reduksi bobot limbah mencapai 94,44 persen pada kelompok limbah baru dan 94,64 persen pada kelompok limbah lama

Lampung (ANTARA) - Politeknik Negeri Lampung (Polinela) meneliti pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau magot sebagai teknologi pengolahan limbah organik dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mengurangi beban sampah, sekaligus menghasilkan produk bernilai guna.

Dosen Politeknik Negeri Lampung Sarono saat dikonfirmasi di Lampung Selatan, Jumat, mengatakan penelitian tersebut dilakukan dengan menguji enam jenis limbah makanan yang berasal dari lauk ayam goreng, lele goreng, tahu-tempe goreng, telur, roti tawar, dan roti manis. Pengujian juga membandingkan limbah yang mengalami fermentasi spontan selama tiga hari dan 15 hari.

“Hasil penelitian menunjukkan limbah dengan sumber protein lele goreng menghasilkan efisiensi biokonversi tertinggi secara numerik yakni 23,05 persen. Namun hasil tersebut tidak berbeda nyata secara statistik dibandingkan limbah ayam goreng, telur, serta tahu-tempe,” katanya.

Baca juga: Menteri LH dorong kolaborasi ITS terapkan inovasi limbah untuk MBG

Sementara itu, kata dia, limbah roti tawar dan roti manis menghasilkan efisiensi biokonversi masing-masing sekitar 18,52 persen dan 18,39 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik bahan makanan memengaruhi kinerja larva dalam mengolah limbah organik, sehingga diperlukan pemilahan berdasarkan jenis bahan sebelum proses pengolahan dilakukan.

“Penelitian ini mencatat rata-rata reduksi bobot limbah mencapai 94,44 persen pada kelompok limbah baru dan 94,64 persen pada kelompok limbah lama,” ucap Sarono.

Meski demikian penurunan bobot tersebut tidak seluruhnya dapat diartikan sebagai penguraian bahan organik oleh larva, karena perubahan kadar air dan penguapan juga dapat memengaruhi hasil pengukuran.

Baca juga: Peneliti BRIN tawarkan solusi inovatif tangani limbah Program MBG

Melalui teknologi biokonversi BSF, limbah organik berpotensi diubah menjadi biomassa larva dan residu pengolahan atau kasgot yang dapat dikaji lebih lanjut untuk pemanfaatan sebagai bahan pakan maupun pembenah tanah setelah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

Pengembangan teknologi tersebut, kata dia, diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah MBG, terutama di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga pelaksanaan program pemenuhan gizi masyarakat turut memperhatikan aspek lingkungan.

Polinela juga menekankan pentingnya pengujian lanjutan dan penerapan proyek percontohan sebelum teknologi tersebut dikembangkan secara lebih luas.

Baca juga: Wamen LH ingatkan perlunya pengelolaan limbah MBG oleh SPPG

Pewarta: Riadi Gunawan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Riadi Gunawan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira