Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi menyatakan perseroan melalui PT Permodalan Nasional Madani (PNM), siap menjalankan Program Pembiayaan PNM Mekaar atau Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS) dengan suku bunga 8 persen.

Hery mengatakan uji coba program tersebut sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu.

“Siap, siap udah pilot (uji coba) kok tiga bulan yang lalu,” kata Hery saat ditemui usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin.

Sebagaimana diketahui, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai penyalur pembiayaan merupakan anak perusahaan BRI. Program ini menyasar perempuan dari keluarga berpendapatan rendah yang memiliki atau ingin merintis usaha mikro dan ultra mikro.

Melalui program tersebut, nasabah mendapatkan pembiayaan produktif dengan suku bunga atau marjin flat 8 persen per tahun dan plafon hingga Rp15 juta per akad.

Besaran bunga yang dibayarkan nasabah tersebut lebih rendah dibandingkan suku bunga sebelumnya yang berkisar 18-25 persen per tahun.

Hery menjelaskan, skema pembiayaan tersebut menerapkan subsidi bunga dari pemerintah. Dengan demikian, total bunga kredit sebesar 18 persen, dengan 8 persen dibayarkan oleh debitur dan 10 persen sisanya ditanggung pemerintah.

“Itu suku bunga kreditnya 18 persen. 8 persen dibayar oleh debiturnya, 10 persen subsidi dari pemerintah,” ujar Hery.

Ia mengatakan pemerintah saat ini masih mempersiapkan dan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut sebelum diterapkan secara penuh.

Implementasi program ditargetkan mulai pekan kedua November 2026.

“Karena ini masih bahas kesiapan. Belum (implementasi), nanti mungkin sisa tahun ini belum full,” ujarnya.

Adapun Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,6 triliun untuk subsidi bunga Program Pembiayaan PNM Mekaar dengan suku bunga yang dibayarkan nasabah sebesar 8 persen.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan anggaran tersebut disiapkan untuk mendukung pelaksanaan program hingga akhir Desember 2026.

“Sementara ini, tadi untuk sampai akhir Desember sudah disiapkan kurang lebih sekitar Rp 2,6 triliun. Nanti akan kita exercise kembali Rp2,6 triliun itu, dan berdasarkan constraint waktu yang tinggal 2 bulan ini bisa mengcover berapa nasabah,” kata Maman saat ditemui usai Rakortas Kredit Pemberdayaan Perempuan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin.

Maman menjelaskan, pelaksanaan program tersebut mundur dari jadwal awal karena pemerintah terlebih dahulu melakukan uji coba lapangan terhadap sekitar 2.000 nasabah PNM Mekaar.

“Kenapa ini agak mundur dari jadwal awalnya? Karena kan kita mau uji coba lapangan dulu, jadi tidak langsung semuanya kita implementasikan. Jadi kita uji coba lapangan dan alhamdulillah hasil dari uji coba tersebut itu kurang lebih sekitar 2.000-an ibu-ibu nasabah Mekaar, ada beberapa catatan-catatan, alhamdulillah itu sudah kita evaluasi,” jelasnya.

Maman memastikan skema pembiayaan PNM Mekaar dengan suku bunga flat 8 persen bagi nasabah akan diberlakukan secara permanen.

Baca juga: Pemerintah anggarkan Rp2,6 T buat subsidi PNM Mekaar bunga 8 persen

Baca juga: PNM bersama PPI buka peluang ekspansi pasar produk nasabah Mekaar

Baca juga: Kementerian UMKM finalisasi subsidi bunga PNM Mekaar 8 persen

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Bayu Saputra

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira