Limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD biometana yang bisa kita monetize (uangkan)
Denpasar, Bali (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) menyampaikan Indonesia memiliki potensi gas biometana lebih dari 200 MMSCFD dari limbah cair kelapa sawit yang dimurnikan menjadi biogas.
“Limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD biometana yang bisa kita monetize (uangkan),” ujar Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza ketika ditemui di sela-sela 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa.
Oki menyampaikan potensi biometana menjadi salah satu pembahasan dalam ASCOPE. Para anggota ASCOPE, kata dia, membahas bagaimana menangkap gas metana yang keluar dari limbah-limbah cair yang ada di Indonesia dan di negara lain.
Selain itu, lanjut dia, para perusahaan yang merupakan anggota ASCOPE juga berdiskusi tentang bagaimana cara menangkap gas metana yang bocor dari fasilitas-fasilitas minyak dan gas bumi (migas).
“Jadi, dengan kita memperkuat produksi di beberapa negara di ASEAN, kita memperkuat kawasan ini,” ucap Oki.
Di sisi lain, CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) John Anis sempat menyinggung kerja sama dengan Singapore LNG (SLNG) untuk mengembangkan biometana dari pabrik-pabrik kelapa sawit.
Baca juga: Pertamina sebut forum ASCOPE dapat percepat pengurangan emisi metana
Baca juga: Pertamina kolaborasi internasional menekan emisi metana di Indonesia
John menyampaikan SLNG memiliki konsumen yang akan membeli biometana dari pabrik sawit, sementara Indonesia memiliki pasokan bahan bakunya.
Kerja sama pengembangan biometana tersebut, tutur John, memperkuat strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy) perusahaan, khususnya pada lini bisnis rendah karbon (low carbon business).
Sinergi tersebut mempercepat komersialisasi produk tanpa perlu membangun pasar secara mandiri dari awal.
“Kita nanti juga punya teknologi, kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan,” ujar John.
Pertamina memetakan potensi dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di Sumatra yang terbagi ke dalam empat klaster utama. Keempat klaster tersebut meliputi kawasan Sumatera Utara (klaster 1), Riau (klaster 2), Jambi (klaster 3), serta Lampung dan Palembang (klaster 4).
Saat ini, studi kelayakan untuk proyek tersebut dinilai menunjukkan kemajuan, dan perusahaan sedang mematangkan rencana transportasi transmisi biometana, baik melalui jaringan pipa maupun truk untuk moda darat.
Pihaknya juga menargetkan pengamanan surat minat (letter of intent) dengan para pembeli (off-taker).
Baca juga: PGN bidik biometana dari Sumsel disalurkan mulai 2027
Baca juga: PGN siap integrasikan biometana ke infrastruktur gas bumi
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Putu Indah Savitri
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira