Merah adalah penanda umum keberanian, semangat tapi juga darah dan sebagainya. Fajar antara harapan gelap dan terang. Jadi banyak paradoks dalam kata Merah Sebelum Fajar,”
Tokyo (ANTARA) - Tangis sutradara Garin Nugroho pecah usai penayangan perdana Red Before Dawn (Merah Sebelum Fajar) di Hulic Hall Tokyo, pada 27 Oktober 2026, yang merupakan bagian dari Tokyo International Film Festival ke-39.
Air matanya jatuh karena perasaan getir, marah, dan geram yang sudah dipendam bertahun-tahun menyaksikan kekerasan yang terjadi di Indonesia, juga tempat lain di dunia.
“Aku nggak pernah nangis di panggung,” kata Garin saat berbincang dengan ANTARA di Tokyo setelah filmnya diputar untuk pertama kalinya di dunia.
Merah Sebelum Fajar adalah bagian dari perjalanan panjang Garin Nugroho di festival film Asia yang sudah diselenggarakan sejak 1985 itu.
Sejarah Garin dengan Tokyo International Film Festival dapat dirunut hingga puluhan tahun lalu, ketika pada 1994 ia meraih penghargaan Gold Prize di Tokyo lewat film Surat untuk Bidadari.
“Dapat penghargaan 20 juta yen, film terbaik (Surat untuk Bidadari). Daun di Atas Bantal dapat Special Jury Prize (tahun 1998). Tapi ya nggak nangis!” kenang Garin.
“Terlalu banyak kekerasan dalam kehidupan ini, jadi katarsis. Dan banyak orang-orang yang terkena bencana dan kekerasan, tapi tidak diperhatikan. Jadi banyak ketidakberdayaan, korban kekerasan, korban kerusakan alam yang bukan jadi dosa mereka,” papar Garin.
Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam kompetisi utama di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 (Festival Film Tokyo) yang diikuti berbagai negara itu.
Pada penyelenggaraan ke-39, TIFF menerima sebanyak 1.892 film dari 112 negara dan wilayah. Dari hampir dua ribu film, sebanyak 15 film terpilih berkompetisi dalam kategori Kompetisi Utama, salah satunya karya Garin.
Film-film tersebut bersaing memperebutkan sejumlah penghargaan, termasuk Tokyo Grand Prix, Special Jury Prize, Best Director Award, Best Actress Award, Best Actor Award, dan Best Artistic Contribution Award.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya kepada ANTARA mengatakan, pihaknya mengapresiasi dan sangat bangga atas pencapaian sineas Indonesia yang karyanya berhasil lolos seleksi dan berkompetisi di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026.
"Film-film Indonesia telah terbukti tidak sekadar kekayaan intelektual (IP) yang memiliki potensi bisnis, tetapi menjadi cermin dari aneka pengalaman dan pengetahuan manusia lintas negara dan lintas budaya sehingga membuka peluang bisnis strategi yang berkelanjutan," kata Riefky.
Baca juga: Simak lagi warta soal film Garin Nugroho, akses internet Indonesia
Baca juga: Tayangkan film terbarunya di Tokyo, Garin Nugroho: "Free Palestine!"
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Nanien Yuniar
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira