Magelang (ANTARA) - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto, menyampaikan, penggunaan listrik tekan biaya operasional penggilingan padi secara signifikan.
Ia menuturkan jika sebelumnya biaya penggilingan satu ton gabah menggunakan mesin diesel mencapai Rp354.670, melalui mesin listrik biaya tersebut turun menjadi Rp142.820 per ton.
"Dengan demikian, terdapat penghematan sebesar Rp211.850 per ton atau sekitar 60 persen. Efisiensi ini diperoleh melalui pengurangan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan tenaga kerja," katanya.Magelang, Kamis,
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui revitalisasi dan elektrifikasi penggilingan padi skala kecil.
Program tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengolahan gabah sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok tani dalam menjaga ketersediaan beras di Jawa Tengah.
Ia menuturkan, program elektrifikasi penggilingan padi tersebut dilaksanakan melalui peningkatan daya listrik dari satu fase menjadi tiga fase, perbaikan mesin, serta penggantian mesin penggerak berbahan bakar diesel menjadi tenaga listrik.
Ia menyebutkan, salah satu lokasi penerapan program tersebut berada di Gapoktan Maju Makmur, Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Menurut dia, program ini merupakan bagian dari revitalisasi 14 penggilingan padi skala kecil yang difasilitasi pemerintah sepanjang 2025 hingga 2026, dengan total pembiayaan mencapai Rp3,1 miliar.
Baca juga: Perpadi usul Kementan beri KUR guna revitalisasi penggiling padi kecil
Baca juga: Asosiasi minta pemerintah segera revitalisasi penggilingan padi kecil
Baca juga: Huler elektrik untuk ketahanan pangan di Ranah Minang
Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Heru Suyitno
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira