Surabaya (ANTARA) - Tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah menganalisis 12.474.536 akun digital terkait opini publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Perkembangan media sosial memungkinkan kita membaca opini yang benar-benar diekspresikan masyarakat melalui unggahan, komentar, dan berbagai interaksi digital. Hal ini membuka peluang baru dalam penelitian opini publik,” kata anggota tim peneliti, Prof Catur Suratnoaji seusai menerima penghargaan MURI di Surabaya, Rabu.

Penghargaan tersebut diberikan dalam kategori analisis opini publik digital terbanyak. Catur menerima penghargaan bersama tim peneliti yang terdiri atas Yuli Candrasari, Syifa Syarifah Alamiyah dan Aqsath Rasyid Naradhipa.

Baca juga: Akses 28 juta akun anak telah dibatasi sejak penerapan PP Tunas

Catur menjelaskan penelitian itu tidak hanya menghitung jumlah percakapan, tetapi juga mengidentifikasi akun yang terlibat dalam pembentukan opini publik mengenai pemerintahan Prabowo.

“Sebanyak 12.474.536 akun teridentifikasi terlibat dalam percakapan mengenai pemerintahan Presiden Prabowo. Angka tersebut menjadi dasar pencapaian rekor MURI,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan jumlah akun digital tersebut tidak dapat disamakan dengan jumlah individu, karena satu orang bisa memiliki lebih dari satu akun.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan analisis data besar (big data analytics) dan Ilmu Sosial Komputasional (Computational Social Science) untuk memetakan dinamika opini publik di media sosial.

Baca juga: Kebijakan pembatasan akun lindungi anak dari kejahatan ruang digital

Pengumpulan data dilakukan menggunakan sejumlah kata kunci terkait Presiden Prabowo dan pemerintahannya, seperti Prabowo, Presiden Prabowo, Kabinet Merah Putih, serta berbagai tagar yang relevan.

Data yang terkumpul selanjutnya melalui tahapan penghapusan data ganda, penyaringan spam dan bot yang dapat diidentifikasi, normalisasi teks, hingga validasi metadata.

Melalui metode tersebut, tim dapat menganalisis sentimen, emosi, topik percakapan, serta hubungan antarpengguna media digital.

“Penelitian ini tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak akun yang berbicara. Kami juga ingin memahami bagaimana opini publik terbentuk, isu yang mendapat perhatian, perkembangan sentimen, hingga hubungan antarakun dalam jaringan komunikasi,” ujarnya.

Untuk memetakan hubungan antarpengguna, tim juga menerapkan Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis/SNA). Metode tersebut digunakan untuk melihat pola interaksi dan penyebaran informasi dalam jaringan komunikasi digital.

Menurut Catur, penelitian berbasis data besar memberikan perspektif berbeda dalam memahami opini publik dibandingkan survei konvensional.

Survei menggunakan responden yang dipilih melalui teknik pengambilan sampel, sedangkan analisis data besar mengamati jejak komunikasi yang muncul secara alami di ruang digital.

Baca juga: Pakar nilai regulasi algoritma penting lindungi anak di ruang digital

Baca juga: Jalan tengah kontroversi satu akun per orang

Meski demikian, ia menegaskan kedua pendekatan tersebut tetap memiliki fungsi masing-masing dalam penelitian opini publik.

Sebelum mengajukan pencatatan rekor, tim peneliti menelusuri sejumlah kategori MURI yang berkaitan dengan penelitian opini publik, survei, politik, dan aktivitas media sosial.

Dari penelusuran tersebut, tim belum menemukan kategori yang secara khusus menggunakan jumlah akun atau aktor komunikasi digital sebagai indikator analisis opini publik.

Catur mengatakan kebaruan penelitian tersebut tidak hanya terletak pada jumlah data, tetapi juga metode dan unit analisis yang digunakan untuk memahami dinamika opini masyarakat.

Pewarta: Willi Irawan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Willi Irawan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira