Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengajak masyarakat menghapus stigma gangguan kesehatan jiwa dalam puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional (HKJN).

"Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwanya dulu yang dibangun. Kalau kita mau sehat dan selamat, ada empat faktor utama, yaitu menunaikan kewajiban pada Tuhan, hidup sesuai norma dan aturan, mensyukuri apa yang ada, serta bersabar," kata Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim di Jakarta, Selasa.

Firmanuddin mengatakan kesehatan jiwa perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Menurut dia, pembangunan manusia harus dimulai dari jiwa, sebagaimana tercermin dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Maka itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa sekaligus menghapus stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa.

Firmanuddin berharap edukasi yang diberikan para narasumber dapat menambah pengetahuan peserta dan diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat. Dengan begitu, berbagai persoalan kesehatan, termasuk masalah kesehatan jiwa, dapat ditangani secara lebih optimal di Jakarta Selatan.

"Peserta diharapkan dapat menyerap ilmu dan mengaktualisasikannya dalam pelayanan kepada masyarakat agar dapat menekan angka permasalahan kejiwaan dan kesehatan di Jakarta Selatan," katanya.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Debi Intan Suri memaparkan kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi dengan RSUD Pasar Minggu dan RSUD Kebayoran Baru.

"Rangkaian kegiatan diisi dengan edukasi dan sosialisasi kesehatan jiwa yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari guru, siswa, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga elemen masyarakat lainnya," kata Debi.

Debi menambahkan edukasi kesehatan jiwa penting dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa perlu mendapatkan kesempatan untuk didengarkan, diakui, dan diterima tanpa diskriminasi.

Ia menuturkan salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kesehatan jiwa saat ini adalah ketakutan masyarakat terhadap stigma gangguan jiwa.

Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta mendukung akses pelayanan kesehatan jiwa.

Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam mendukung proses pemulihan orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Melalui penanganan medis yang tepat dan dukungan sosial yang memadai, mereka tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan secara produktif dan bermakna.

"Harapan ke depan, stigma terhadap kesehatan jiwa bisa dihilangkan. Mereka butuh didengar, diakui, dan sebenarnya butuh diobati. Mereka bisa hidup normal selama penanganan kasus jiwa ini bisa kita atasi bersama-sama melalui pengobatan yang tepat, pengakuan dari lingkungan sekitar, serta dukungan dari keluarga," ucapnya.

Baca juga: Dukungan sosial dari lingkungan sekitar bantu jaga kesehatan mental

Baca juga: Kenali tanda-tanda masalah kesehatan mental

Baca juga: Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental

Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Luthfia Miranda Putri

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira