Aimas (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, menggandeng Tim Ekspedisi Patriot 15 Universitas Brawijaya (UB) untuk merumuskan strategi percepatan eliminasi malaria menyusul meningkatnya jumlah kasus penyakit tersebut di wilayah setempat, yakni dari 1.100 pada 2025 menjadi 1.327 di penghujung 2026.

Wakil Bupati Sorong Sutejo di Aimas, Selasa, memberikan apresiasi kepada Tim Ekspedisi Patriot 15 Universitas Brawijaya atas hasil kajian dan rekomendasi yang disampaikan untuk membantu percepatan eliminasi malaria di wilayah Kabupaten Sorong.

"Hasil penelitian tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penanganan dan pengendalian malaria," katanya.

Sutejo berharap rekomendasi yang disampaikan, terutama kepada Dinas Kesehatan, dapat segera ditindaklanjuti dan direalisasikan melalui program nyata.

"Harapan kami, rekomendasi dari Tim Patriot ini, terutama yang disampaikan kepada Dinas Kesehatan, mudah-mudahan bisa direalisasikan dan dilaksanakan karena merupakan hasil penelitian yang konkret dan nyata," ujarnya.

Sutejo menegaskan percepatan eliminasi malaria membutuhkan keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan dukungan berbagai elemen masyarakat agar target eliminasi malaria nasional pada 2030 dapat tercapai.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong Agustinus Wabia mengungkapkan jumlah kasus malaria di wilayah tersebut meningkat dari 1.100 kasus pada 2025 menjadi 1.327 kasus pada 2026.

Sejumlah wilayah yang masih memiliki tingkat penularan malaria cukup tinggi meliputi Distrik Aimas, khususnya Kampung Klabinain dan Maibo, Distrik Mayamuk yang mencakup Kampung Jeflio dan Arar, serta Distrik Mega, Salawati Selatan, dan Seget.

Agustinus mengatakan penanganan malaria tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah distrik, pemerintah kampung, organisasi masyarakat, serta perangkat daerah terkait.

"Saat ini, Dinas Kesehatan memprioritaskan penemuan kasus, pemeriksaan, serta pengawasan pengobatan pasien sesuai dosis hingga dinyatakan sembuh," ujarnya.

Selain itu, upaya pencegahan dilakukan melalui pemberantasan tempat nyamuk dan peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Pihaknya juga merencanakan pembagian kelambu secara massal dengan menyasar kampung-kampung yang memiliki angka kasus malaria tertinggi.

"Pembagian kelambu secara rutin juga tetap dilakukan kepada pasien malaria dan ibu hamil sebagai bentuk perlindungan terhadap kelompok rentan," kata Agustinus.

Terkait penggunaan pengasapan atau fogging, ia menjelaskan pihaknya masih melakukan kajian dan mempersiapkan sosialisasi kepada masyarakat. Hal tersebut diperlukan karena pelaksanaan fogging harus menyesuaikan waktu aktivitas nyamuk yang mulai menggigit sekitar pukul 18.00 WIT.

"Untuk saat ini kami belum melaksanakan fogging pada malam hari karena perlu sosialisasi dan persiapan agar tidak mengganggu aktivitas serta waktu istirahat masyarakat. Sementara itu, kami tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk, termasuk membersihkan saluran air yang tersumbat," kata Agustinus.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Yuvensius Lasa Banafanu

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira