Jakarta (ANTARA) - Pemerintah berkolaborasi dengan lintas sektor untuk membangun rumah layak huni di Subang, Jawa Barat, dalam rangka mencegah stunting melalui penyediaan akses air bersih dan sanitasi.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk memberikan bantuan rumah layak huni kepada tiga keluarga berisiko stunting (KRS) di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (2/11).

"Ini semua upaya yang besar, membangun bangsa itu suatu proses yang panjang, melibatkan seluruh unsur, dan membutuhkan dana serta pembiayaan yang besar. Ini juga perjuangan yang membutuhkan kerja bersama, membutuhkan kesadaran dari kita semua," ujar Menko PMK, Sugiono dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Pemkab Subang rehabilitasi ratusan rumah tidak layak huni pada 2023

Melalui Program Gerakan orang tua cegah stunting (Genting) yang menjadi salah satu program prioritas Kemendukbangga/BKKBN yang langsung menyasar keluarga risiko stunting (KRS), pemerintah melibatkan mitra kerja sebagai orang tua asuh (OTA) untuk memberikan bantuan, baik berupa nutrisi maupun non-nutrisi, termasuk bantuan rumah layak huni.

Mendukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji mengemukakan Genting menjadi salah satu usaha untuk menyelamatkan satu generasi. Oleh karena itu, Kemendukbangga/BKKBN terus berupaya menyediakan infrastruktur yang memadai untuk investasi sumber daya manusia mulai dari keluarga.

"Kita pastikan anak-anak yang masih punya harapan masa depan, kita selamatkan, jangan sampai stunting, sebab stunting tidak hanya masalah asupan gizi, tetapi juga pernikahan dini, sanitasi, termasuk di rumah keluarga berisiko stunting yang tidak memiliki jamban," ujar Wihaji.

Pada kesempatan tersebut, bantuan rumah layak huni diberikan kepada keluarga Tete Amin Sutana, keluarga Nanan dan keluarga Encep yang memiliki kondisi rumah masih berdinding bilik dengan lantai tanah, dan belum memiliki jamban. Padahal, ketiga keluarga tersebut masih memiliki anak dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau usia 0-2 tahun.

Dalam rangka menurunkan angka stunting, BRI turut berperan dengan memberikan bantuan rumah layak huni senilai masing-masing Rp50 juta untuk ketiga keluarga tersebut.

Baca juga: Banjir sepekan terakhir di Subang, rendam ribuan rumah 51 desa

Baca juga: Puluhan rumah di Subang rusak terdampak gempa Sumedang

"BRI melalui program BRI Peduli berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah, salah satunya dalam rangka renovasi rumah tidak layak huni, untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat," tutur Branch Office Head BRI Subang Bright Brennan Parulian.

Bantuan pembangunan rumah layak huni ini disambut baik oleh ketiga KRS tersebut. Salah satu kepala keluarga, Tete Amin Sutana yang memiliki lima anak, dua diantaranya berusia 19 bulan, tidak menyangka akan memperoleh bantuan dari program Genting.

Selain memperoleh bantuan dari OTA, ketiga KRS juga mendapatkan bantuan sembako dari Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat yang akan diberikan sekali dalam sebulan, selama tiga bulan ke depan.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, diharapkan prevalensi stunting di Kabupaten Subang dapat menurun dari angka 18,7 persen (SSGI, 2024) sehingga anak-anak dapat hidup sehat dan menjadi generasi masa depan yang dapat menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Lintang Budiyanti Prameswari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira