Jakarta (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta mendukung pelestarian batik, termasuk upaya untuk mewariskan pengetahuan dan keterampilan membatik kepada generasi selanjutnya.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati dalam acara "Bincang Batik" di Museum Tekstil Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa melestarikan batik tidak cukup dengan menyimpan, memamerkan, atau mengenakannya.

Dia menyampaikan pentingnya memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai budaya di balik selembar kain batik bisa tetap hidup dengan mewariskannya kepada kepada generasi berikutnya.

"Jangan sampai kita masih memiliki kain batiknya, tapi kehilangan orang-orang yang mampu membuatnya. Jangan sampai kita mengenal keindahan motifnya, tetapi tidak lagi memahami cerita dan filosofi yang terkandung di dalamnya," katanya.

Sri mengemukakan bahwa batik bukan hanya kain dengan motif yang indah, melainkan bagian dari identitas, sejarah, pengetahuan, dan cerminan nilai-nilai masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Batik ini memiliki karakteristik dan perjalanan sejarah yang menarik," katanya.

Ia mencontohkan, pertemuan berbagai budaya melahirkan kekhasan motif, warna, dan teknik pembuatan Batik Kudus.

"Sebagaimana banyak warisan budaya tradisional lainnya, Batik Kudus juga mengalami berbagai tantangan terutama dalam hal keberlanjutan keterampilan pembatik dan regenerasi pengajin," ia menjelaskan.

Baca juga: Para pewaris dan penjaga batik Nusantara

Koleksi kain Batik Kudus dalam pameran "Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas" di Museum Tekstil, Jakarta. (ANTARA/Sri Dewi Larasati)

Dalam upaya untuk mendukung pelestarian batik, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mengadakan pameran bertajuk "Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas" dari 2 Oktober hingga 2 November 2026 di Museum Tekstil.

Pameran yang diadakan dalam rangkaian acara peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober itu menampilkan koleksi awal museum, karya-karya dari maestro batik, serta sumbangan tokoh-tokoh bangsa kepada Museum Tekstil Jakarta.

Museum Tekstil Jakarta dalam pameran tersebut menampilkan kembali keindahan batik Kudus, Demak, dan Banyumas agar bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda.

"Sekarang sudah tidak diproduksi, tapi kalau begitu melihat pernah ada batik-batik yang indah ini, ini membangkitkan semangat generasi muda untuk mempelajari dan menciptakan lagi motif-motif batik dari ketiga daerah yang tidak kalah indahnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia," kata Sri.

Selain mengadakan pameran, pengelola Museum Tekstil menyelenggarakan acara "Bincang Batik."

Sri mengatakan bahwa Museum Tekstil Jakarta tidak hanya menjaga koleksi warisan budaya, tetapi juga menghadirkan ruang belajar, dialog, serta pewarisan pengetahuan dan keterampilan.

Museum Tekstil Jakarta, ia melanjutkan, ingin menghadirkan ruang bagi para perajin, akademisi, komunitas, generasi muda, dan masyarakat untuk bertemu serta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang Batik Kudus, tetapi juga membangkitkan kepedulian dan mendorong lahirnya generasi penerus yang mencintai serta bersedia mempelajari keterampilan batik," katanya mengenai acara "Bincang Batik" di Museum Tekstil Jakarta.

Baca juga: Dubes Turkiye puji pelestarian dan promosi batik Indonesia

Baca juga: Kemenperin luncurkan aplikasi pelestarian industri batik nasional

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sri Dewi Larasati

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira