Samarinda (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Kaltim menyebutkan pembatasan kuota produksi batu bara tahun 2026 oleh pemerintah, membawa dampak berantai yang terasa langsung hingga ke usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), termasuk bagi rumah tangga yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Hasil kajian yang dilakukan oleh tim periset Brida mencatat efek pengganda negatif menyebar cepat, bahkan mengubah pola hidup masyarakat secara signifikan," ujar Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Kaltim, Fitriansyah di Samarinda, Kamis.

Dalam hal ini, tim peneliti melakukan survei pada 847 UMKM di 12 kecamatan kawasan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur pada awal tahun 2026. Sebanyak 68 persen pelaku usaha melaporkan penurunan omset rata-rata antara 35 hingga 55 persen.

Lebih dari itu, sekitar 142 unit usaha atau setara dengan 17 persen dari total yang disurvei terpaksa tutup permanen. Kerugian ekonomi yang dialami oleh sektor penunjang ini diperkirakan mencapai Rp3,1 triliun per tahun.

Baca juga: Kaltim siap hasilkan dua juta ton metanol per tahun dari batu bara

"Rantai dampak berjalan sangat jelas, pekerja kontrak dirumahkan atau pindah, sehingga belanja rumah tangga menurun hampir seketika. Dampaknya langsung terasa pada katering dan logistik tambang, penyewaan kos dan kontrakan, bengkel, warung makan, hingga toko bangunan di sekitar lokasi tambang," kata Fitriansyah.

Di Kabupaten Kutai Timur, empat sektor paling terdampak adalah transportasi dan logistik, katering dan perdagangan, jasa penyewaan alat berat, serta properti sewa.

Omset UMKM di kawasan ini turun berkisar antara 40 hingga 50 persen, sementara warung dan usaha kecil mengalami penurunan sekitar 40 hingga 50 persen. Tiga dari sepuluh kamar sewa yang biasanya ditempati pekerja, kini kosong karena sebagian pekerja diberhentikan.

Tekanan tersebut kemudian merembes masuk ke dalam kehidupan rumah tangga masyarakat. Kehilangan pendapatan tetap, memaksa keluarga mengambil langkah berat, mulai dari menunggak cicilan kendaraan, melepas aset berharga seperti perhiasan dan sepeda motor, hingga anak terpaksa pindah sekolah ke tempat lebih murah atau ikut pindah ke kota lain.

Baca juga: Harga batu bara capai 154 dolar AS per ton, Bahlil harap produksi naik

Secara psikologis, dampak yang dirasakan juga pada banyak kepala keluarga yang mengalami stres, sulit tidur, dan cenderung lebih tertutup atau menjadi pendiam.

Dari sisi ketenagakerjaan, pekerja kontrak menghadapi ketidakpastian tinggi. Kontrak berakhir mendadak dengan masa pemberitahuan hanya dua minggu, sementara kompensasi yang diterima dinilai tidak memadai.

Sebagian pekerja terampil kemudian pergi mencari penghidupan ke kota lain, seperti Samarinda dan Balikpapan. Perempuan pun ikut menanggung beban ganda, bekerja lebih keras untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus mengurus rumah tangga sendirian saat pasangan dirumahkan.

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · M.Ghofar

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira