Rwanda (ANTARA) - Para menteri kesehatan Afrika sepakat untuk tetap membuka perbatasan negara mereka, meski wabah Ebola di kawasan tersebut menyebar dengan cepat, menurut kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya, Kamis (29/10).

Pengumuman itu disampaikan setelah pertemuan virtual tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Africa CDC untuk mengevaluasi situasi Ebola dan mendiskusikan cara-cara untuk memperkuat koordinasi lintas batas.

Lebih dari 40 menteri Afrika menghadiri pertemuan darurat tersebut, yang diadakan di tengah penyebaran geografis wabah Ebola yang cepat, yang disebabkan oleh varian virus Bundibugyo.

Sejauh ini, empat negara telah terdampak oleh wabah tersebut, yakni Kongo, Uganda, Kenya, dan Nigeria.

Pertemuan tersebut memutuskan agar setiap negara bersiap dan bekerja sama lintas batas untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari virus tersebut, yang telah merenggut hampir 5.000 nyawa sejak Mei, terutama di Republik Demokratik Kongo.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, jumlah kasus yang terkonfirmasi telah melampaui 10.170, dengan tingkat kematian kasus sebesar 48,5 persen.

"Saya berdiri di hadapan lebih dari 40 menteri Afrika dan menyampaikan apa yang ditunjukkan oleh data: sejauh ini kita belum menang," kata Kaseya.

"Bersama-sama, kami sepakat untuk mempersiapkan setiap negara, melakukan koordinasi lintas batas, dan tetap membuka perbatasan tersebut sembari terus memantau dengan ketat. Mitra-mitra kami mendukung penuh rencana Afrika ini," tambahnya.

Kaseya menyampaikan kepada para menteri bahwa dalam lima bulan terakhir, wabah itu telah berkembang dari krisis nasional menjadi ujian bagi ketahanan kesehatan di tingkat benua.

Dia mengatakan, meski prioritas utama adalah menghentikan Ebola di benua Afrika, tantangan yang masih dihadapi meliputi masalah keamanan, situasi kemanusiaan yang kompleks, serta keterbatasan pendanaan.

Menteri Kesehatan Uganda, Chris Baryomunsi, menyatakan bahwa pengalaman negaranya menunjukkan bahwa penularan dapat dihentikan jika negara-negara bertindak lebih awal dan tegas.

Pada Agustus lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Uganda telah bebas dari Ebola. Negara tersebut sempat melaporkan 20 kasus terkonfirmasi setelah wabah diumumkan pada Mei.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika telah memperingatkan bahwa 10 negara Afrika lainnya "berisiko" terdampak oleh virus tersebut, menyusul wabah yang terjadi di Kongo; negara-negara tersebut meliputi Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, South Sudan, dan Zambia.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Kemlu RI pantau intensif perkembangan wabah Ebola di Afrika

Baca juga: Ebola di Kongo sebabkan 4.018 orang meninggal

Baca juga: China berkomitmen bantu negara-negara Afrika untuk perangi Ebola

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Cindy Frishanti Octavia

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira