Namun di tengah kekhawatiran itu, ada satu hal yang membuat para guru terus optimistis menghadapi situasi sulit ini, yaitu semangat belajar anak-anak

Manggarai (ANTARA) - Masih pukul 09.00 WITA, ketika itu. Namun, hawa panas telah terasa di kulit. Sesekali, angin yang kencang berhembus mendinginkan suasana sekaligus membawa debu beterbangan.

Meski dalam suasana kurang nyaman seperti itu, sebanyak 32 hingga 40 siswa antusias mengikuti pelajaran di ruang-ruang dari bilik bambu yang dibangun di halaman Sekolah Dasar Inpres Nggorang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Situasi seperti itu menjadi keseharian siswa dan guru setempat setidaknya dalam dua bulan terakhir. Semua berawal setelah kegiatan belajar mengajar sempat diliburkan selama dua pekan setelah gempa bumi pada 15 Agustus yang melanda sejumlah kabupaten di Nusa Nipa, sebutan lain dari Pulau Flores.

“Saya kangen dengan suasana sekolah dahulu sebelum gempa. Kami semua bersekolah dengan ceria, banyak tawa karena tempat bermain kami luas,” kata seorang siswa bernama Tristan.

Setelah gempa, halaman sekolah yang biasa menjadi tempat bermain Tristan bersama teman-temannya dipakai untuk mendirikan kelas-kelas darurat karena bangunan sekolah mereka tak bisa ditempati akibat rusak berat.

“Kami juga takut karena gempa masih sering terjadi,” kata Tristan.

Tristan berharap bencana gempa ini lekas berhenti dan sekolahnya dapat dibangun kembali sehingga dia dan teman-temannya dapat belajar dengan tenang dan aman.

Senada dengan Tristan, seorang siswa lainnya, Nayya, juga mengatakan bahwa kegiatan belajar di sekolah tidak senyaman dahulu.

“Sekarang dua kelas harus digabung menjadi satu sehingga suasana menjadi lebih ramai dan kami susah untuk konsentrasi,” kata Nayya.

Apalagi, kini ia telah duduk di kelas 6 SD dan mempersiapkan diri untuk kelulusan dan berharap bisa diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri yang ia idam-idamkan.

Ia berharap gempa bumi tak lagi terjadi di Manggarai maupun daerah-daerah lain di Flores.

“Semoga pemerintah dapat lekas memulihkan sekolah dan rumah-rumah kami agar kami kembali hidup dengan tenang dan belajar dengan baik,” kata Nayya.

Tristan dan Nayya tidak sendiri. Menurut data BNPB per 22 Oktober, ada 261.602 siswa dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, dan SLB di NTT yang bernasib sama setelah gempa bumi memporakporandakan bangunan sekolah mereka dan bangunan lainnya.

Seorang siswa di SD Inpres Nggorang, Reok, Kabupaten Manggarai, NTT, Senin (19/10/2026), menunjukkan lukisan yang berisi harapannya . (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Pemulihan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Aditya Pradana Putra

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira