Jakarta (ANTARA) - Multi-Stakeholder Forum (MSF) Pengentasan Kemiskinan mulai menjalankan program kolaboratif di tiga desa melalui berbagai program dan sumber daya dalam upaya menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.
Program tersebut melibatkan pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat guna mengatasi fragmentasi program pengentasan kemiskinan yang selama ini berisiko menimbulkan tumpang tindih bantuan dan kesenjangan layanan.
"MSF ingin mempertemukan pemahaman atas masalah, rencana aksi, dan kontribusi masing-masing pihak agar dukungan kepada desa saling menguatkan," kata Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia Rizal Algamar dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Tiga desa yang menjadi lokasi percontohan atau pilot project yakni Desa Ciseureuheun yang didampingi Human Initiative, Desa Panyingkiran Kidul oleh Rumah Zakat, dan Desa Karyawangi oleh DT Peduli.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dyah Tri Kumolosari mengatakan, pengentasan kemiskinan membutuhkan sinergi berbagai pihak melalui strategi pengurangan beban pengeluaran masyarakat, peningkatan pendapatan, serta pengurangan kantong-kantong kemiskinan.
Baca juga: Menko PM - Menko PMK sinergi strategi pengentasan kemiskinan
Dyah menyampaikan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2026 yang menunjukkan tingkat kemiskinan nasional mengalami penurunan. Namun, tingkat kemiskinan, kedalaman, dan keparahan kemiskinan di pedesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
"Kondisi tersebut memperkuat pentingnya menjadikan desa sebagai basis pengentasan kemiskinan melalui asesmen dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat," ujar dia.
Sementara itu, Vice Chairman MSF Pengentasan Kemiskinan sekaligus Ketua Umum Humanitarian Forum Indonesia Romi Ardiansyah mengatakan, program kolaboratif tersebut dirancang untuk menghubungkan program yang sudah berjalan dengan dukungan tambahan sesuai kebutuhan masyarakat desa.
MSF menyiapkan anggaran Rp8,5 miliar untuk tiga desa percontohan melalui skema pembiayaan campuran dengan pencairan secara bertahap.
Baca juga: Budiman Sudjatmiko: Swasembada pangan penggerak pengentasan kemiskinan
Vice Chairman MSF Pengentasan Kemiskinan sekaligus Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Wildhan Dewayana mengatakan, program pemberdayaan tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga penguatan kemampuan, penghidupan, dan kelembagaan masyarakat setempat.
Program akan dilaksanakan melalui tiga fase, yakni stabilisasi, penguatan, dan kemandirian, dengan target mewujudkan desa mandiri pada 2031. Sasaran intervensi mencakup graduasi rumah tangga, peningkatan pendapatan, dan penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Sebelum menentukan lokasi percontohan, MSF mengkaji lebih dari 450 desa yang diusulkan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 178 desa dianalisis, 60 desa dikurasi, hingga akhirnya ditetapkan tiga desa sebagai lokasi implementasi awal.
MSF menargetkan perluasan program ke lebih dari 100 desa pada 2030 dengan membuka peluang keterlibatan pemerintah, perusahaan, lembaga filantropi, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.
Baca juga: Menko PM dorong pemberdayaan jadi instrumen utama entaskan kemiskinan
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Lintang Budiyanti Prameswari
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira