Jakarta (ANTARA) - Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir MIND ID Achmad Ardianto mengatakan pengembangan teknologi dan kemitraan strategis menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat kapabilitas industri nasional, serta memastikan pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan pasar domestik dan global.

Achmad Ardianto melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi perlu mempertimbangkan kebutuhan pasar pada masa mendatang. Karena itu, strategi industri tidak cukup hanya bertumpu pada potensi sumber daya alam dan kapasitas pengolahan, tetapi juga perlu memperhitungkan prospek permintaan produk.

"Yang penting, standar strategis yang kita tetapkan harus berorientasi pada masa depan. Artinya, kita harus menyelaraskannya dengan kebutuhan pasar dan masyarakat pada masa mendatang, baik di tingkat global maupun nasional," kata Achmad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Sejalan dengan pendekatan tersebut, MIND ID memperkuat fondasi hilirisasi melalui empat aspek, yakni ketahanan cadangan dan sumber daya, pengembangan hilirisasi bernilai tambah, pembangunan pusat keunggulan proyek dan operasi, serta penerapan teknologi yang adaptif dan inovatif.

Keempat aspek ini menjadi bagian dari upaya membangun kapabilitas industri yang berkelanjutan dan siap menjawab kebutuhan masa depan.

Penguatan kapabilitas juga dilakukan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan global untuk memperoleh akses terhadap teknologi, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan teknologi.

Pendekatan ini tercermin dalam pengembangan teknologi melalui kerja sama ANTAM dan INALUM dengan Chalieco, serta Indonesia Growth Project (IGP) yang dikembangkan PT Vale Indonesia bersama mitra strategis dalam ekosistem pengolahan nikel.

Selain memperkuat kapabilitas teknologi, MIND ID menjajaki investasi dan kemitraan strategis di berbagai negara, termasuk Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan, untuk memperluas akses terhadap sumber daya mineral baru.

"Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengamankan pasokan mineral guna mendukung kebutuhan industri masa depan," ujarnya.

Melalui penguatan teknologi, kemitraan strategis, dan akses terhadap sumber daya mineral, MIND ID mendorong pengembangan hilirisasi yang tidak hanya meningkatkan kapasitas pengolahan, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional.

Pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem mineral Indonesia yang berkelanjutan dan mampu berperan dalam rantai industri global.

Sementara itu, Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa menegaskan bahwa kerja sama teknologi perlu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di industri.

Menurut dia, kolaborasi tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), tetapi harus berlanjut menjadi proyek konkret yang memberikan dampak bagi industri.

"Di Danantara, kami membangun kerja sama untuk mendorong inovasi yang dapat langsung diimplementasikan di industri. Dengan demikian, kami tidak hanya menjadi pihak yang mengadopsi apa yang telah dilakukan pihak lain, tetapi juga menjadi pionir dalam inovasi. Kami tidak akan berhenti pada MoU, tetapi menindaklanjutinya menjadi proyek-proyek konkret yang dapat segera dijalankan dan menunjukkan dampak nyata," kata Sigit.

Baca juga: Pemerintah kaji pembangunan smelter ke depan

Baca juga: MIND ID: Transisi energi tambah permintaan mineral kritis 5 kali lipat

Baca juga: ESDM bidik data center hingga energy storage jadi pasar hilirisasi RI

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Khaerul Izan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira