KIP Kuliah atau apapun upaya pemerintah dalam mewujudkan pemerataan akses pendidikan tinggi menjadi instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan
Jakarta (ANTARA) - âSaya sempat berpikir, sepertinya saya harus keluar dari ITB untuk bekerja, memenuhi bayar kontrakan, bayar makan, dan lain-lain,â ujar Alif mengenang masa-masa saat ia masih menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), lebih dari sepuluh tahun lalu.
Bagi sebagian orang, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mungkin dapat digapai dengan mudah. Tapi bagi sebagian lainnya yang memiliki keterbatasan ekonomi, termasuk Alif, bisa menjadi pergulatan panjang.
Bahkan, Alif sempat berniat tak melanjutkan kuliah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu ibu mencari nafkah sebab ayah meninggal dunia tak lama setelah Alif dinyatakan lulus seleksi perguruan tinggi.
Alif tak menyerah. Ia terus melangkah hingga mendapat kesempatan menerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang saat itu bernama Beasiswa Bidikmisi. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu dengan belajar sungguh-sungguh dan terus mengembangkan diri.
Kini, Alif berkarir sebagai komisaris Cerebrum, sebuah perusahaan rintisan platform pendidikan yang ia kembangkan bersama sahabatnya sejak duduk di bangku semester akhir perguruan tinggi. Platform tersebut menawarkan 15 aplikasi bimbingan belajar, mencakup persiapan masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan.
âVisinya itu ingin membangun aplikasi pembelajaran dari mulai sejak dalam rahim seperti bagaimana cara ibu mengandung yang baik dan lain-lain, bahkan sampai ke liang lahat. Jadi visi kami ingin membangun aplikasi belajar di semua siklus manusia hidup,â tutur Alif.
Selain itu, Alif juga aktif membagikan konten analisis fenomena sehari-hari menggunakan rumus sains dan matematika. Tujuannya, sebagai lulusan jurusan matematika, ia ingin membumikan matematika dan mengubah cara pandang orang yang masih menganggap matematika tidak begitu berarti bagi kehidupan sehari-hari.
Konten-konten itu yang kemudian mengantarkan Alif ditunjuk sebagai Tenaga Ahli Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
âSelama tahun-tahun kemarin itu, uang beasiswa itu kan udah saya makan, udah jadi daging, udah jadi darah, enggak bisa dibalikin lagi ke masyarakat. Sehingga tujuan saya adalah bagaimana ini bisa bermanfaat kembali untuk Indonesia, makanya mudah-mudahan saya bisa makin bermanfaat lagi,â kata Alif dengan mata berbinar ketika ditanya tentang cita-citanya di masa depan.
Bukan hanya Alif. Dinda, mahasiswa semester akhir Program Studi Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, juga mempunyai cerita serupa, bagaimana beasiswa KIP Kuliah membuka kesempatan bagi dirinya untuk terus melangkah dan meraih cita-cita di tengah keterbatasan.
Orang tua Dinda bekerja berjualan nasi dan lontong sayur, penghasilannya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginan Dinda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sempat dilarang orang tua karena khawatir tak bisa membayar uang kuliah. Namun gadis asal Serang itu tetap teguh pada pendiriannya.
âMotivasi saya untuk mendaftar KIP Kuliah ini, saya akan memanfaatkan sebanyak apapun kesempatan yang saya miliki, dan alhamdulillah KIP Kuliah sangat membantu saya dalam mencapai hal-hal yang dulu saya kira tidak mungkin menjadi mungkin,â ujar Dinda.
Selama kuliah, Dinda menjadi mahasiswa yang aktif mengikuti perlombaan, terutama di bidang sastra. Pada 2026 berhasil meraih medali perak untuk cabang puisi di SeIBA International Festival. Tak hanya itu, Dinda juga telah menulis 8 judul novel.
Beragam pencapaian yang diraih Dinda semasa kuliah tak pernah ada di benak sang ibu sebelumnya meskipun semasa kecil Dinda merupakan anak yang cerdas. Melihat buah hatinya saat ini, sang ibu, Anah, menangis bangga.
Bagi Anah, beasiswa KIP Kuliah sangat berperan besar terhadap segala pencapaian sang buah hati.
âMudah-mudahan ke depannya, banyak lagi siswa yang dapat beasiswa kayak Dinda,â tutur Anah.
Baik Dinda maupun Alif menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi memang seharusnya tidak menghalangi anak-anak Indonesia untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Baca juga: Kemdiktisaintek pastikan perubahan desil tak gugurkan KIP Kuliah
Pendidikan tinggi untuk semua
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Suci Nurhaliza
At a glance
- Topic
- World
- Country
- đźđ© ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira