Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan hilirisasi agar tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk antara, tetapi berkembang menjadi ekosistem baru yang menumbuhkan industri-industri pendukung.

Menurut Sarmuji, hilirisasi sumber daya alam merupakan titik awal proses industrialisasi yang harus dilanjutkan hingga menghasilkan barang jadi, sekaligus mendorong tumbuhnya industri pendukung dalam rantai pasok.

"Hilirisasi sumber daya alam kita itu adalah titik awal dari industrialisasi. Jadi hilirisasi, kata hilirisasi itu sebenarnya sebuah titik awal dari proses industrialisasi yang akan terus kita kembangkan," kata Sarmuji dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Jumat.

Dia menekankan keberhasilan industrialisasi tidak cukup hanya diukur berdasarkan besarnya investasi yang masuk, tetapi juga harus dilihat dari peningkatan nilai tambah, kemampuan teknologi industri, penyerapan tenaga kerja, serta terbentuknya rantai pasok domestik.

Sarmuji mencontohkan pengembangan industri nikel yang bergerak dari pengolahan bijih menjadi produk antara, komponen baterai, hingga kendaraan listrik.

Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan satu jenis produk, tetapi juga menciptakan ekosistem industri baru yang melibatkan berbagai sektor pendukung.

Selain itu, penguatan keterkaitan industri dari hulu hingga hilir dapat menghasilkan efek berganda berupa peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM), serta berkembangnya industri permesinan, logistik, jasa, dan sektor ekonomi lainnya.

Selain nikel, pemerintah juga mendorong pengembangan komoditas unggulan lain yang memiliki potensi menjadi keunggulan komparatif Indonesia, seperti kelapa sawit, rumput laut, sagu, dan keanekaragaman hayati.

Baca juga: Ekonom Indef tekankan pentingnya hilirisasi pertanian

Baca juga: Mentan Amran mintapemda dorong hilirisasi komoditas pertanian lokal

Sarmuji menilai keanekaragaman hayati Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri farmasi melalui proses ekstraksi dan pengembangan.

Dia mencontohkan sejumlah tanaman yang secara tradisional telah dikenal masyarakat, seperti pasak bumi, hingga kumis kucing yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi bahan baku obat.

"Syukur-syukur suatu saat keanekaragaman hayati kita ini bisa kita ekstraksi menjadi bahan baku obat yang sekarang kita terus-menerus impor dan jumlahnya sangat besar," ujarnya.

Selain itu, pengembangan industri kelapa dan rumput laut juga dinilai memiliki prospek besar, rumput laut, misalnya, dapat diolah menjadi berbagai bahan baku kosmetik, obat-obatan, serta makanan dan minuman.

Pengembangan industri berbasis komoditas tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi lebih luas, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir.

Dalam upaya memperkuat ekosistem industrialisasi, Kementerian Perindustrian juga mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Dia mengungkapkan, berdasarkan penelitian dan simulasi Badan Pusat Statistik (BPS), setiap Rp1 belanja produk dalam negeri dapat memberikan dampak sebesar Rp2,2 terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

Selain itu, substitusi impor senilai Rp400 triliun berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,71 persen dan menghasilkan tambahan output ekonomi sebesar Rp627,58 triliun.

Di sisi lain, penguatan ekosistem industri juga dilakukan melalui peningkatan kemitraan antara IKM dan industri besar agar pelaku usaha kecil dapat terintegrasi dalam rantai pasok manufaktur.

Baca juga: Indonesia pamerkan inovasi pangan bernilai tambah di FAO Roma

Baca juga: Kemenperin membina perusahaan lakukan hilirisasi spirulina dan porang

Baca juga: Pemprov Lampung perkuat hilirisasi produk jagung

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ahmad Muzdaffar Fauzan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira