Produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan mengambil peran lebih luas dalam rantai nilai, tidak hanya menjual produk akhir kepada konsumen, tetapi juga memasok kebutuhan bagi usaha dan industri lain

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan industri produk antara (intermediate product) untuk memperkuat rantai pasok (supply chain) industri nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas berbasis sumber daya alam lokal.

Menurut Sarmuji, pengembangan produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan memperluas peran dalam rantai nilai industri, tidak hanya menghasilkan produk akhir untuk konsumen, tetapi juga menyediakan bahan baku olahan bagi industri lainnya.

"Produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan mengambil peran lebih luas dalam rantai nilai, tidak hanya menjual produk akhir kepada konsumen, tetapi juga memasok kebutuhan bagi usaha dan industri lain," katanya dalam Pameran Krista Interfood dan Penganugerahan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026, Tangerang, Rabu.

Dalam kesempatan tersebut, Sarmuji menyoroti berbagai inovasi pengolahan komoditas lokal, mulai dari mi berbahan sagu, mi kombinasi singkong dan tempe, rumput laut yang berpotensi jadi biofuel, hingga produk kolagen yang berasal dari kulit, sisik, dan tulang ikan.

Ia juga menyoroti inovasi pengolahan alga menjadi ekstrak untuk bahan pangan fungsional, serta pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan sebagai bahan baku kolagen.

Menurut Sarmuji, pemanfaatan hasil samping produksi tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pelaku industri kecil menengah (IKM).

Ia menilai inovasi produk berbasis komoditas lokal menunjukkan besarnya potensi sumber daya alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk pangan modern yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Sarmuji menegaskan, pengembangan industri berbasis sumber daya alam tidak cukup hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah. Indonesia perlu memperkuat hilirisasi, riset, dan inovasi untuk menciptakan produk bernilai tambah serta memiliki keunggulan kompetitif.

Lebih lanjut, ia menyebut industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu penopang utama industri pengolahan nonmigas. Pada semester I 2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp47,74 triliun, dengan 59 persen di antaranya berasal dari penanaman modal dalam negeri.

Sementara itu, pada Januari–Agustus 2026, ekspor industri mamin mencapai 34,65 miliar dolar AS, sedangkan impornya sebesar 9,7 miliar dolar AS. Dengan demikian, sektor ini mencatatkan surplus perdagangan hampir 25 miliar dolar AS dan menyerap sekitar 6,9 juta tenaga kerja.

Kinerja industri tersebut turut didukung kondisi manufaktur nasional yang menunjukkan penguatan. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara, antara lain Jepang 53,3, Vietnam 52,3, China 52,0, dan Korea Selatan 51,3. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 menguat ke level 53,77.

"Ini merupakan modal yang sangat baik. Kita harus memanfaatkan momentum ekspansi ini untuk bekerja lebih cepat dan lebih kuat. Kementerian Perindustrian siap bukan hanya menjadi fasilitator dan regulator, tetapi juga menjadi akselerator bagi pertumbuhan sektor industri yang lebih tinggi," ujar Sarmuji.

Di luar sektor pangan, Sarmuji juga mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai bahan baku industri farmasi guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku obat.

Selain itu, ia memandang produk pangan dan kuliner Nusantara memiliki potensi sebagai sarana diplomasi lunak untuk memperluas pengenalan produk Indonesia di pasar internasional.

Oleh karena itu, ia mendorong kolaborasi pelaku industri pangan dengan diaspora Indonesia di berbagai negara.

Baca juga: Menperin perdalam hilirisasi demi ciptakan pertumbuhan berkelanjutan

Baca juga: Menperin dorong pemanfaatan momentum positif industri nasional

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ahmad Muzdaffar Fauzan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira