Ini adalah tindak lanjut dari kunjungan Bapak Presiden ke Amerika Serikat. Kita membuktikan bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri menghasilkan langkah-langkah produktif. Selain mempererat hubungan antarnegara, kunjungan tersebut juga membawa misi e
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menilai investasi Amerika Serikat (AS) pada tahap awal senilai 500 juta dolar AS di sektor baterai dan teknologi energi terbarukan di kawasan industri Batam, memperkuat daya saing sekaligus memperdalam struktur industri.
Investasi tersebut merupakan salah satu hasil konkret diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat, terutama di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan industri.
"Ini adalah tindak lanjut dari kunjungan Bapak Presiden ke Amerika Serikat. Kita membuktikan bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri menghasilkan langkah-langkah produktif. Selain mempererat hubungan antarnegara, kunjungan tersebut juga membawa misi ekonomi untuk mengundang investor, menumbuhkan industri, dan menciptakan lapangan kerja di Indonesia," ujar Sarmuji di Jakarta, Kamis.
Usai menyaksikan penandatanganan kerja sama antara PT Tynergy Technology Group dan Wiraraja Group, Menperin mengatakan, kerja sama itu merupakan tindak lanjut kesepakatan investasi Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 18 Februari 2026 di Washington, D.C., dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo.
Komitmen itu mulai direalisasikan melalui rencana investasi tahap awal Tynergy di Wiraraja Industrial Park I, Batam, dengan nilai yang ditargetkan mencapai 500 juta dolar AS.
Investasi tersebut diarahkan untuk pengembangan industri baterai yang memiliki beragam aplikasi, mulai dari kendaraan listrik, pusat data (data center), hingga sistem penyimpanan energi untuk pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Menurut Sarmuji, pengembangan industri baterai melalui investasi tersebut akan memperkuat struktur industri nasional karena produknya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk kendaraan listrik dan energi baru terbarukan.
"Selama ini kita sudah fokus mengembangkan industri baterai. Namun, pemanfaatannya sangat beragam, mulai dari mobil listrik, data center, hingga energi baru terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya. Kehadiran investasi ini akan semakin memperkuat kedalaman industri kita," ungkapnya.
Ia juga menilai kerja sama tersebut mencerminkan tingginya minat investor global terhadap prospek industri manufaktur Indonesia, didukung komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekosistem baterai nasional.
Sarmuji memastikan Kementerian Perindustrian akan terus mendukung kelancaran realisasi investasi, termasuk membantu menyelesaikan berbagai kendala yang mungkin dihadapi pelaku industri dalam menjalankan proyeknya.
Presiden Direktur PT Wiraraja Bintang Persada Akhmad Ma'ruf Maulana mengatakan kerja sama tersebut menjadi bentuk realisasi komitmen investasi yang dibangun melalui diplomasi ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat.
Ia menjelaskan pembangunan pabrik telah memasuki tahap penyelesaian akhir, sedangkan investasi berikutnya direncanakan mulai masuk pada awal 2027.
"Pabriknya sebenarnya sudah selesai dan saat ini masih dalam tahap finishing. Insya Allah sekitar April tahun depan fasilitas tersebut sudah dapat dikunjungi. Kami juga akan mengundang Bapak Menteri untuk melihat langsung industri yang telah kami bangun," katanya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Tynergy Technology Group Yan Purba mengatakan, kerja sama tersebut sebagai tahap awal pengembangan industri teknologi energi di Indonesia.
Pengembangan itu melibatkan Tynergy bersama sejumlah mitra, termasuk Essence Global Indonesia dan Energy Tech Indonesia.
Baca juga: Menperin yakin industri EV siap penuhi TKDN 60 persen di 2027
Baca juga: Menperin bidik pengembangan klaster khusus untuk data center
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Ahmad Muzdaffar Fauzan
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira