Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong perusahaan teknologi Amerika Serikat memperluas investasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, seperti penciptaan peluang ekonomi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki layanan publik.
Dalam pertemuan dengan delegasi US-ASEAN Business Council (USABC), Meutya menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi untuk memperluas infrastruktur digital, tetapi juga kolaborasi yang menghasilkan transfer pengetahuan, pengembangan talenta, serta akses inovasi yang lebih merata, termasuk bagi masyarakat di wilayah perdesaan.
"Pembangunan digital tidak cukup hanya menghubungkan masyarakat dengan internet. Konektivitas harus membuka peluang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperbaiki pelayanan publik," kata Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Rabu.
Baca juga: Menkomdigi tanggapi ancaman jalur internet Indonesia diputus Singapura
Meutya menjelaskan bahwa arah transformasi digital Indonesia bertumpu pada tiga prinsip, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Ketiganya menjadi landasan agar perluasan konektivitas diikuti peningkatan produktivitas masyarakat sekaligus pelindungan dalam pemanfaatan teknologi.
Melalui prinsip tersebut, pemerintah ingin memastikan investasi digital tidak hanya menghasilkan pertumbuhan industri, tetapi, juga memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.
"Hubungan kita akan semakin baik apabila kita terus memperhatikan transfer pengetahuan dan peningkatan keahlian dalam berbagai pengembangan digital yang dilakukan di Indonesia," kata Meutya.
Kemkomdigi mendorong perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk memperluas kontribusi melalui pengembangan talenta digital, peningkatan kapasitas tenaga kerja, dan penerapan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Pengembangan kecerdasan artifisial (AI) turut menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut. Meutya menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap inovasi dan investasi AI, dengan tetap mengedepankan keamanan, pelindungan anak, serta pelindungan data pribadi.
Menurut dia, besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadikan pengembangan AI sebagai peluang strategis sekaligus tanggung jawab yang membutuhkan tata kelola yang jelas.
"Indonesia perlu terus mengembangkan AI dan memanfaatkan peluang yang ditawarkannya. Namun, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, kita juga harus memastikan adanya aturan dan mekanisme perlindungan yang memadai agar teknologi ini dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab," kata Meutya.
Baca juga: Kemkomdigi soroti akses dan keamanan data warga dalam RUU Adminduk
Dalam penyusunan kebijakan digital, termasuk peta jalan AI nasional, Kemkomdigi berkomitmen membuka dialog dengan pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan. Meutya menekankan bahwa kepastian dan keterbukaan regulasi penting untuk memberikan ruang bagi inovasi, sekaligus memastikan perkembangan teknologi tetap sejalan dengan kepentingan masyarakat Indonesia.
"Kami ingin memastikan regulasi yang disiapkan dapat dipahami dan diprediksi oleh para pemangku kepentingan, bukan menjadi kejutan bagi industri. Karena itu, proses penyusunannya perlu terbuka terhadap berbagai perspektif agar inovasi dapat berkembang dengan tetap memperhatikan pelindungan masyarakat," kata dia.
CEO US-ASEAN Business Council Brian McFeeters menyampaikan bahwa kerja sama pemerintah dan sektor swasta semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital, terutama AI, yang berlangsung sangat cepat.
"Dibandingkan dengan bidang lain yang menjadi perhatian kami, isu digital merupakan bidang yang sangat membutuhkan kemitraan pemerintah dan sektor swasta. Kemitraan ini menjadi sangat penting karena perkembangan AI berlangsung dari minggu ke minggu," ujar Brian.
Brian juga menyoroti kontribusi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di Indonesia melalui investasi, transfer pengetahuan, pendidikan, pengembangan keahlian, serta berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan. USABC telah menyiapkan laporan yang mendokumentasikan kontribusi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi dan kerja sama digital antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Kemkomdigi memandang kemitraan dengan USABC sebagai kesempatan untuk memperkuat kolaborasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia.
Melalui investasi yang disertai pengembangan kapasitas sumber daya manusia, transfer pengetahuan, serta tata kelola teknologi yang bertanggung jawab, pemerintah mendorong pertumbuhan ekosistem digital Indonesia yang produktif, inklusif, aman, dan terpercaya.
Baca juga: Trump segera larang penggunaan istilah "kecerdasan artifisial"
Baca juga: Direktur Kebudayaan UI: kepedulian sosial tak bisa digantikan AI
Baca juga: Kemkomdigi minta transparansi AI & algoritma lindungi hak publik
Baca juga: IMF soroti pertumbuhan didorong AI di Timur Tengah dan Asia Tengah
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Farhan Arda Nugraha
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira