Di Nagoya, mereka tidak sekadar membawa pulang medali emas. Mereka juga membawa pulang keyakinan. Bahwa luka bisa dipulihkan. Kegagalan bisa menjadi pelajaran.

Nagoya, Jepang (ANTARA) - Suara teriakan Subhan begitu keras hingga menutupi sorakan penonton setelah papan skor menunjukkan angka 21-15.

Ia seketika melentangkan tubuhnya di atas lapangan, memandang langit-langit stadion sambil menangis.

Begitu pula pasangannya, Rina Marlina, yang tak kuasa menahan air mata. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke lantai setelah pertandingan gim ketiga berakhir.

Kedua atlet para bulu tangkis itu baru saja memetik kemenangan pada laga final Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Nagoya, Jepang.

Mereka menumbangkan pasangan China, Shuangbao Lin dan Qingtao Zeng, dengan skor 21-16, 11-21, dan 21-15.

Medali emas dari nomor ganda campuran SH6 pun berhasil diraih kontingen Indonesia.

Perjuangan Subhan/Rina akhirnya usai. Peluh telah terbayar, ketegangan telah luruh, dan air mata yang mengalir menjadi saksi betapa dalam kebahagiaan yang mereka rasakan setelah melewati perjalanan yang tidak mudah.

Tangisan mereka bukan sekadar luapan kebahagiaan, melainkan ungkapan dari segala perasaan yang tersimpan hingga akhirnya berlabuh pada kemenangan.

Kemenangan itu begitu berarti bagi Subhan/Rina. Bukan hanya tentang emas sebagai pencapaian tertinggi, tetapi juga tentang pemulihan luka batin akibat trauma masa lalu.

Baca juga: Rina/Subhan bangkit kalahkan China demi emas kedua Indonesia

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Aloysius Lewokeda

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira