Greta Thunberg terus berteriak, menyuarakan krisis iklim, penderitaan rakyat, penindasan di seluruh dunia, tanpa rasa takut. Dia berjuang tidak untuk dirinya, tapi untuk dunia yang lebih baik.
Jakarta (ANTARA) - Greta Thunberg berusia 23 tahun. Aktivis lingkungan berpengaruh dan terkemuka di dunia saat ini.
Kandidat Peraih Nobel Perdamaian pada 2019 itu, sudah tujuh kali ditangkap di berbagai negara karena aksi protesnya. Tidak jarang disiksa aparat, namun Greta—yang menjadi aktivis sejak berusia 15 tahun — tak pernah menyerah.
Pada Kamis (16/10), melalui akun Instagram @gretathunberg mengunggah video dari seorang perempuan warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang mengenakan masker respirator dan kacamata. Di belakangnya, tampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti pohon-pohon dan rumah-rumah penduduk.
Dalam unggahan di akun instagram aktivis asal Swedia tersebut ditulis, "Bantu kami mendukung para petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap untuk melindungi masyarakat—terutama anak-anak dan kelompok rentan—serta menyelamatkan hutan yang tersisa."
Unggahan Greta Thunberg hingga Jumat (22/10) ini disukai 683 ribu, diunggah ulang sebanyak 223 ribu, dan dibagikan 50,8 ribu kali. Akun instagram Greta memiliki pengikut 17,1 juta.
Nama lengkapnya, Greta Tintin Eleonora Emman Thunberg, lahir pada 3 Januari 2003 di Stockholm, Swedia. Dalam kurun waktu 2023-2025, karena aksinya, Greta di tangkap di Swedia, Inggris, dan Inggris. Di Den Haag, Belanda, April 2024, Greta ditangkap ketika memimpin aksi blokade jalan tol pro-lingkungan.
Oktober 2025, Greta bersama ratusan aktivis Global Sumud Flotilla membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina. Di kawasan Laut Mediterania, kapal mereka dicegat Angkatan Laut Israel. Greta dan sejumlah aktivis ditahan di Pelabuhan Ashdod, 40 km di sebelah selatan Tel Aviv.
"Greta Thunberg dibungkus bendera Israel dan dipamerkan seperti piala," kata jurnalis Italia, Lorenzo D’Agostino kepada Kantor Berita Turki, Anadolu, Ahad (5/10/2025). Disebutkan, Greta mengalami pelecehan, penghinaan, dan perlakuan kasar di penjara Israel dan tidak menerima cukup makanan atau air.
Jurnalis Turki Ersin Celik menyaksikan Greta disiksa tentara Israel. "Mereka menyeret Greta dengan menjambak rambutnya di depan mata kami, memukulinya, dan memaksanya mencium bendera Israel," kata Ersin kepada Anadolu, Ahad (5/25).
Greta dikenal publik pada usia 15 tahun. Ini karena aksi mogok sekolah pada Agustus 2018 di depan gedung parlemen Swedia. Saat itu, menjelang pemilihan umum Swedia. Greta sendirian, ditemani karton protes yang ditulisnya, "Skolstrejk för klimatet" (Mogok Sekolah untuk Iklim).
Pelajar kelas sembilan—pendidikan tingkat dasar hingga menengah pertama— di Franska Skolan, Stockholm, melakukan aksi ini dipicu gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia, juga lambannya pemerintah menangani krisis iklim ini.
Setiap Jumat, Greta rutin mogok, menuntut pemerintah menurunkan emisi karbon sesuai Perjanjian Paris. Awalnya, tidak ada yang peduli. Tapi Greta tidak menyerah. Jumat berikutnya dia mogok lagi, terus begitu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Melalui sosial media, gerakan ini kemudian menyebar melintasi Swedia dan lima benua.
Baca juga: Diculik saat ke Gaza, Greta Thurnberg minta Swedia tekan Israel
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Asro Kamal Rokan *)
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira