Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan dalam forum internasional pertemuan tokoh lintas agama di Assisi, Italia, mendapat perhatian dari penyelenggara.
Ia mengatakan penyelenggara menyampaikan apresiasi terhadap materi pidato Indonesia dan berencana menindaklanjutinya dalam agenda pertemuan mendatang.
“Jadi, statemen kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” ujar Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, Menag menghadiri sidang tingkat tinggi pertemuan internasional untuk perdamaian Sant'Egidio di Assisi, Italia.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyebut ketertarikan peserta forum tidak hanya tertuju pada gagasan diplomasi keagamaan, tetapi juga pada Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman.
Menurutnya, kesempatan berbicara yang semula dialokasikan selama tujuh menit bahkan berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta ingin mengetahui lebih jauh pengalaman Indonesia.
“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” kata dia.
Baca juga: Pidato di Assisi, Menag tekankan pentingnya aksi nyata kemanusiaan
Sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dibangun melalui Masjid Istiqlal juga mendapat perhatian untuk ditindaklanjuti. Ia menyebut April tahun depan sebagai salah satu momentum kelanjutan pembahasan tersebut.
Dalam kunjungan itu, Menag juga diterima oleh Menteri Luar Negeri Vatikan. Keduanya membahas hubungan Indonesia dan Vatikan, terutama dalam memperkuat kerja sama serta menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Menurut Menag, otoritas Vatikan memandang Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar sekaligus memiliki pengalaman penting dalam menjaga kehidupan beragama yang moderat.
Salah satu titik temu yang menghubungkan Indonesia dan Vatikan adalah komitmen untuk membela kelompok masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.
“Bahwa siapapun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” kata dia.
Menag berharap respons positif dari berbagai pihak selama kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama yang konkret, baik dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, maupun penguatan diplomasi keagamaan.
Baca juga: Menag bawa sejumlah peluang kerja sama hasil pertemuan di Assisi
“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” ujar Menag.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Asep Firmansyah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira