Jakarta (ANTARA) - Ilmuwan neurologi di Amerika Serikat menjelaskan bahwa latihan fisik, dan juga kognitif, dapat membantu menurunkan risiko perempuan mengalami demensia setelah menopause.
Menurut laporan laman Eating Well, Rabu (4/11), menopause tidak hanya berdampak kepada kesehatan fisik, namun, juga fungsi otak perempuan.
Profesor neurologi di UCLA sekaligus ahli saraf pendiri Program Menopause Komprehensif UCLA, Rhonda Voskuhl, M.D., menjelaskan bahwa tubuh dan otak perempuan memiliki banyak reseptor estrogen, hormon yang memberikan manfaat bagi kulit, tulang, jantung, dan otak perempuan.
Baca juga: Langkah-langkah untuk menekan risiko demensia pada perempuan
Namun, ketika kadar estrogen mengalami penurunan drastis secara tiba-tiba, yang umumnya terjadi saat perempuan memasuki awal usia 50-an, beberapa bagian otak justru mengalami penyusutan.
Pada tahap inilah perempuan dapat mengalami kondisi yang umum disebut sebagai brain fog atau masalah pada fungsi kognitif tertentu. Hal tersebut mencakup memori kerja, memori verbal, kecepatan pemrosesan informasi, dan alur berpikir.
Ketika otak tidak lagi mendapatkan asupan estrogen, kondisi tersebut dapat memicu efek domino.
"Sel-sel di area otak yang berperan dalam memori tidak lagi mendapatkan dukungan dari estrogen. Akibatnya, sel-sel tersebut juga tidak mampu mendukung sel-sel saraf yang membentuk koneksi," kata Voshkul menjelaskan.
Sebagian perempuan mengonsumsi suplemen estrogen untuk mengatasi gejala menopause, seperti sensasi panas yang muncul secara tiba-tiba atau hot flashes. Hal tersebut diperbolehkan selama direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.
Voskuhl menjelaskan olahraga dapat memberikan pengaruh positif terhadap tiga jenis utama demensia, yakni penyakit Alzheimer, demensia vaskular, serta kombinasi keduanya. Dia juga mengungkapkan dua pertiga kasus Alzheimer terjadi pada perempuan.
"Ketika memikirkan ketiga jenis demensia tersebut, olahraga menjadi sangat penting karena dapat memberikan pengaruh terhadap sistem kardiovaskular," kata Voskuhl.
Baca juga: World Women Day soroti urgensi pencegahan demensia perempuan lansia
Pengaruh tersebut mencakup penurunan risiko aterosklerosis, yaitu kondisi penumpukan plak pada pembuluh darah yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.
Secara sederhana, ketika pembuluh darah tidak mengalami penyumbatan, lebih banyak darah dapat mengalir menuju otak.
"Aktivitas fisik dapat membantu kesehatan otak melalui dua cara, yakni secara tidak langsung dengan mengurangi masalah kardiovaskular dan secara langsung melalui faktor yang mendukung kesehatan otak tersebut. Hal ini sangat menarik. Karena itu, kita membutuhkan aktivitas fisik," ujar dia.
Aktivitas tersebut dapat berupa olahraga kardiovaskular yang meningkatkan detak jantung, termasuk bersepeda, jalan cepat, joging, dan berenang, serta latihan kekuatan otot.
Dia menyarankan olahraga kardio dilakukan tiga kali seminggu, masing-masing sesi selama 30 menit. Setelah itu, 30 menit berikutnya lakukan latihan angkat beban untuk meningkatkan kesehatan tulang.
Selain latihan fisik, Voskuhl juga menyarankan latihan kognitif, tetapi bukan sekadar permainan asah otak biasa. Dia menyarankan kegiatan yang dapat melatih memori verbal, kecepatan pemrosesan informasi, dan konsentrasi.
Selain itu, cobalah mempelajari hal-hal baru karena aktivitas tersebut juga dapat menstimulasi otak.
Pola makan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak.
Selain latihan fisik dan kognitif, Voshkul juga menyarankan untuk mengonsumi makanan bergizi dan menjalin hubungan sosial dengan teman dan keluarga.
Baca juga: Enam kebiasaan baik sebelum tidur bagi perempuan usia 50 tahun ke atas
Baca juga: Suplementasi isoflavon kedelai bantu ringankan gejala menopause
Baca juga: Mengenali perimenopause dan amunisi yang tepat menuju fase selanjutnya
Baca juga: Karakteristik unik wanita Indonesia saat alami peralihan menopause
Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sri Dewi Larasati
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira