Mobilitas penduduk atau mobilitas hewan atau apapun itu bisa jadi ancaman, terutama sebagai pembawa dari penyakit ya, itu ada misalnya hewan-hewan. Itu mobilitasnya itu lebih tinggi

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan aktivasi Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) dimulai dari wilayah Jawa-Bali.

"SIZE ini menjadi sebuah sistem dalam rangka untuk mengantisipasi ya penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh zoonosis," kata Deputi Bidang Koordinasi, Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK Sukadiono usai aktivasi sistem tersebut di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia SIZE merupakan sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai data penyakit sektoral, peringatan suatu kejadian penyakit, pencatatan respon dan analisis terhadap zoonosis dan penyakit infeksius baru (PIB).

Daftar penyakit yang wajib lapor menurut Permenko PMK Nomor 7 Tahun 2022 adalah untuk zoonosis antara lain rabies, flu burung (Avian influenza), antraks, leptospirosis, sementara penyakit infeksius baru adalah Nipah, ebola, MERS-Cov, SARS, dan COVID-19.

"Jadi tidak ada sebuah ataupun satu penyakit yang hanya ditangani oleh satu kementerian atau lembaga. Jadi SIZE ini dalam rangka untuk mencegah bersama dan sekaligus menangani bersama secara dini," katanya.

Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas dan Ketahanan Kesehatan Kemenko PMK Nancy Dian Anggraeni mengatakan Jawa-Bali dipilih untuk aktivasi SIZE karena termasuk daerah di Indonesia yang kepadatan penduduknya paling tinggi, penduduk Indonesia itu 60 persen ada di Jawa-Bali.

"Kemudian yang kedua, secara infrastruktur kesisteman, teknologi, teknologi IT, atau kemudian Wi-Fi, internet itu lebih baik, lebih kuat daripada daerah-daerah lain yang ada di Indonesia," katanya.

Dia mengatakan dari sisi potensi di Jawa Bali, karena populasinya tinggi, maka mobilisasi penduduknya tinggi, sebab dipahami bersama, penyakit-penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB) atau wabah itu sangat dipengaruhi oleh mobilitas.

"Mobilitas penduduk atau mobilitas hewan atau apapun itu bisa jadi ancaman, terutama sebagai pembawa dari penyakit ya, itu ada misalnya hewan-hewan. Itu mobilitasnya itu lebih tinggi," katanya.

Dia mencontohkan kesehatan hewan, misalnya adanya penyakit antraks pada ternak sapi tersebut sangat dipengaruhi mudahnya proses perjalanan atau lalu lintas ternak antara Bali dan Jawa.

"Nah, ini risikonya kalau kena pada populasi yang padat di Jawa-Bali, untuk transmisinya, penularannya risikonya jadi lebih tinggi. Nah, oleh sebab itu, kita melihat dari sisi potensial ancaman itu lebih besar di tempat yang di mana mobilitas itu lebih tinggi," katanya.

Dia mengatakan pertimbangan itulah yang menjadi landasan Kemenko PMK memilih Jawa dan Bali dijadikan sasaran tahap awal untuk melakukan aktivasi SIZE, dan selanjutnya pindah ke daerah daerah lain yang secara data memiliki potensi penyakit infeksi baru.

Baca juga: Menko Sugiono dorong penataan dan prioritas anggaran kesehatan

Baca juga: Menko PMK perkuat orkestrasi pendidikan hingga ketahanan bencana

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Hery Sidik

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira