Indonesia masih menghadapi tantangan pemerataan distribusi nakes, khususnya di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan

Badung (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan sejumlah langkah strategis Indonesia dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) kesehatan pada Konferensi Ke-14 Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) di Bali.

"Bagi Indonesia, pengembangan SDM kesehatan merupakan prioritas mendasar dalam mewujudkan sistem kesehatan yang lebih kuat, lebih berkeadilan, dan juga lebih tangguh," kata Direktur Penyediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes, Ika Trisia di Kabupaten Badung, Rabu.

Kepada delegasi dari 22 negara, ia menjelaskan untuk menjawab tantangan ketersediaan nakes, Indonesia menjalankan pendekatan komprehensif dalam transformasi SDM kesehatan.

Langkah pertama yang dilakukan adalah memperkuat perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan berbasis data untuk mengantisipasi kebutuhan nasional.

Selain itu, Indonesia memanfaatkan mobilitas tenaga kesehatan internasional sebagai sarana memperkuat kapasitas institusi pendidikan, meningkatkan kompetensi, serta transfer pengetahuan.

Hasil konferensi itu akan dimanfaatkan untuk mendukung penyusunan cetak biru pengelolaan SDM kesehatan 2026–2035, memperkuat pemerataan tenaga kesehatan, dan mengembangkan kemitraan strategis.

Namun, meski sejumlah langkah telah dilakukan, Ika mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan pemerataan distribusi nakes, khususnya di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Data yang disampaikan dalam konferensi mencatat Indonesia memiliki 180.327 dokter terregistrasi dengan rasio 0,62 dokter per 1.000 penduduk.

Secara nasional, 63 persen atau 6.520 dari 10.337 puskesmas telah memiliki sembilan jenis nakes sesuai standar, selanjutnya 80,8 persen RSUD atau 681 dari 843 rumah sakit memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar.

Kemenkes menyampaikan tantangan utama bukan hanya menghasilkan lebih banyak nakes, melainkan memastikan tenaga yang tepat tersedia di tempat yang tepat dengan kompetensi yang tepat.

Dalam upaya pemenuhan nakes, Kemenkes memprioritaskan wilayah yang mengalami kekosongan total atau nol tenaga kesehatan, terutama di wilayah timur Indonesia.

"Jadi kalau kita punya prioritas, kita akan mengisi tenaga yang saat ini nol orangnya," ucapnya.

Ika menjelaskan wilayah Jawa dan Bali tidak menjadi prioritas utama karena mampu mensuplai sendiri kebutuhan nakes, meski masih kekurangan dari sisi analisis beban kerja (ABK).

Untuk membenahi daerah kekosongan tersebut, Kemenkes menjalankan program strategis penugasan khusus dengan merekrut nakes untuk ditempatkan di wilayah prioritas.

Pemerintah juga memberikan beasiswa kepada putra-putri daerah dengan mengarahkan jurusan sesuai kebutuhan spesifikasi yang kosong di daerah asal mereka.

"Sehingga pada saat dia selesai pendidikan nantinya dia akan kembali ke daerahnya memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kekosongan yang tadi ada di sana," ujar Ika.

Dalam Konferensi AAAH tersebut, Indonesia turut berbagi pengalaman dengan mengajak delegasi berkunjung ke RSUP Dr. Ngoerah, Poltekkes Kemenkes Denpasar, dan Puskesmas Kuta II, untuk melihat langsung proses pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Baca juga: Kemenkes: 22 negara kolaborasi atasi tantangan pemenuhan SDM Kesehatan

Baca juga: Wamenkes dorong kolaborasi UKI siapkan SDM kesehatan menuju 2045

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ni Putu Putri Muliantari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira