TFO ini memberi bantuan untuk meningkatkan capacity building UKM, baik untuk desain produk, pengetahuan pasar Kanada, tren dan juga pricing.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng Trade Facilitation Office (TFO) Kanada melalui proyek Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth (TRISEG), untuk meningkatkan kapasitas 200 usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia dalam menembus pasar Kanada.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan pendampingan difokuskan pada produk kerajinan dan furnitur, meliputi pengembangan desain, pemahaman pasar Kanada, tren, hingga strategi penetapan harga.
"TFO ini memberi bantuan untuk meningkatkan capacity building UKM, baik untuk desain produk, pengetahuan pasar Kanada, tren dan juga pricing," ujar Puntodewi dalam peluncuran TRISEG, di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa.
Menurutnya, program tersebut memprioritaskan pelaku usaha perempuan serta UKM berskala kecil dan menengah. Namun, fasilitasi yang diberikan belum mencakup pembiayaan yang masih menjadi salah satu tantangan bagi pelaku UKM.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag Deden Muhammad Fajar Shiddiq mengatakan TRISEG berlangsung selama lima tahun hingga Maret 2030 dengan dukungan hibah sebesar 334.783 dolar Kanada dari TFO.
Program tersebut menargetkan pendampingan 200 UKM, dengan dua pertiganya dipimpin atau dimiliki perempuan. Pemerintah juga menargetkan terciptanya 20 kesepakatan pasar baru dan 20 pembeli baru dari Kanada.
Deden mengatakan program tersebut diharapkan membantu mengurangi defisit perdagangan Indonesia dengan Kanada.
Hingga Agustus 2026, perdagangan kedua negara mencapai 3,51 miliar dolar Amerika Serikat (AS), tumbuh 15,5 persen secara tahunan. Namun, Indonesia masih mencatat defisit, karena ekspor sebesar 1,12 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 2,39 miliar dolar AS.
Peluang peningkatan ekspor terlihat dari kinerja produk kerajinan. Pada 2025, ekspor kerajinan Indonesia ke Kanada mencapai 8,41 juta dolar AS, naik 21,8 persen. Hingga Agustus 2026, nilainya mencapai 8,15 juta dolar AS atau tumbuh 46,5 persen.
"Proyek TRISEG seharusnya dapat membantu kita mengurangi defisit perdagangan antara Indonesia dan Kanada," kata Deden.
Di sisi lain, impor produk kerajinan Kanada pada 2025 mencapai 700,7 juta dolar AS, sementara pangsa pasar Indonesia baru sekitar 1,2 persen.
Deden menilai implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA) pada 1 Desember 2026 akan semakin membuka peluang ekspor. Sekitar 20 persen lini tarif produk Kanada akan mengalami pengurangan tarif bagi produk Indonesia.
Baca juga: Indonesia dan Kanada jajaki kerja sama baru perkuat hubungan bilateral
Baca juga: Program LPEI hasilkan kontrak ekspor UKM Rp3,4 miliar ke Kanada
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Maria Cicilia Galuh Prayudhia
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira