Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membahas pengembangan talenta energi surya serta peran perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri dalam mendukung Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyampaikan bahwa pemetaan perlu dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja, termasuk bidang pendidikan yang memerlukan intervensi.

"Kita bisa memetakan dengan jelas secara supply, mengetahui pertama permasalahannya, apakah kita ini undersupply dan jika iya di bidang mana saja," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Ia berharap pemetaan talenta ini dapat membantu perguruan tinggi menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kualitas lulusan dan mengurangi pengangguran terdidik.

Dalam hal ini, Wamen Stella menilai kejelasan jalur sertifikasi penting agar perguruan tinggi dapat menyiapkan mahasiswa sesuai kebutuhan dunia kerja.

Baca juga: Wakil Ketua MPR RI mengusulkan insentif pemasangan PLTS atap

Dengan mengetahui kompetensi akhir yang dibutuhkan, perguruan tinggi dapat mempertimbangkan integrasi program sertifikasi ke dalam pembelajaran sekaligus memberikan informasi yang lebih jelas kepada mahasiswa mengenai peluang karier di sektor energi surya.

"Yang paling efisien adalah jika kita sudah tahu end point dari sertifikasinya," ujar Stella.

Wamendiktisaintek juga mengajak Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mengkaji peta jalan riset energi surya yang telah disusun pemerintah pada Konvensi Sains, Teknologi, Industri dan Indonesia (KSTI) 2025 untuk mengidentifikasi kebutuhan riset yang masih perlu dilengkapi.

Menurut dia, perkembangan teknologi panel surya yang terus berlangsung membutuhkan kegiatan riset dan pengembangan berkelanjutan, agar Indonesia dapat meningkatkan kapasitas keilmuan dan industrinya.

Kajian tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi prioritas dan kesenjangan riset, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi energi surya dapat selaras dengan kebutuhan industri.

Baca juga: Arup: PLTS bisa dibangun 1-3 tahun untuk dukung target 100 GW

Hasil kajian ini juga dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitian yang relevan, dengan tantangan dan kebutuhan sektor energi surya nasional.

Diketahui, Pemerintah RI menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW tersebut dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun, dengan investasi sekitar Rp135 triliun untuk membangun 14 proyek pembangkit berkapasitas total 5,3 gigawatt-peak (GWp) sebagai tahap awal program PLTS 100 GW.

Berdasarkan data yang dihimpun AESI, program PLTS 100 GW berpotensi membuka sekitar 5,5 juta lapangan kerja, terdiri atas 3,5 juta pekerjaan di sektor industri dan 2 juta pekerjaan di bidang konstruksi.

Namun, kebutuhan tersebut masih menghadapi tantangan ketersediaan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai. AESI memperkirakan tenaga kerja kompeten yang telah teridentifikasi saat ini baru sekitar 10.000 orang.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari manufaktur panel surya dan baterai, rekayasa desain, perencanaan proyek, konstruksi dan instalasi, hingga operasi dan pemeliharaan.

Kebutuhan juga meliputi peneliti dan insinyur riset dan pengembangan (R&D), serta tenaga di bidang manajemen proyek dan pemodelan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta energi surya memerlukan keterlibatan beragam disiplin ilmu.

Baca juga: Bahlil sebut PLTS 100 GW akan hemat subsidi listrik Rp73 triliun

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sean Filo Muhamad

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira