Jakarta (ANTARA) - Melalui Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu, KAI mengangkat perjalanan 159 tahun perkeretaapian Indonesia serta potensi museum sebagai destinasi edukasi dan wisata sejarah
PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mengembangkan pengelolaan aset heritage sebagai ruang edukasi, pelestarian sejarah, dan destinasi wisata masyarakat. Sejumlah bangunan, stasiun, dan sarana kereta api bersejarah yang tersebar di Jawa dan Sumatra kini menjadi tempat bagi berbagai generasi untuk mengenal perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.
Minat masyarakat terhadap wisata sejarah tersebut terlihat dari aktivitas kunjungan ke dua destinasi heritage KAI di Jawa Tengah. Sepanjang 2024 hingga Agustus 2026, Lawang Sewu di Semarang dan Museum Kereta Api Ambarawa di Kabupaten Semarang mencatat total 2.127.125 kunjungan.
Dari jumlah tersebut, Lawang Sewu mencatat 1.636.638 kunjungan, sedangkan Museum Kereta Api Ambarawa menerima 490.487 kunjungan. Angka tersebut mencerminkan besarnya ketertarikan masyarakat untuk menikmati destinasi wisata yang menghadirkan pengalaman sejarah secara langsung.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa sejarah kereta api memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selama lebih dari satu setengah abad, kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan kota, aktivitas ekonomi, perkembangan teknologi, hingga berbagai peristiwa penting bangsa.
“Di balik setiap stasiun tua, lokomotif uap, dan bangunan bersejarah, ada cerita tentang masyarakat dan perjalanan Indonesia. Kami ingin museum-museum KAI menjadi tempat anak-anak, keluarga, dan generasi muda mengenal sejarah dengan cara yang dekat, menarik, dan berkesan,” ujar Anne.
KAI menghadirkan sejumlah destinasi yang menawarkan pengalaman sejarah dengan karakter berbeda, mulai dari Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa di Jawa Tengah, Museum Kereta Api Bondowoso di Jawa Timur, hingga Museum Kereta Api Sawahlunto di Sumatra Barat.
Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan bersejarah paling dikenal di Semarang. Gedung yang mulai digunakan sebagai kantor pusat administrasi perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1907 tersebut kini menjadi destinasi yang memperkenalkan perjalanan perkeretaapian melalui koleksi benda, dokumentasi, serta informasi mengenai perkembangan transportasi rel Indonesia.
Sementara itu, Museum Kereta Api Ambarawa menghadirkan pengalaman berbeda melalui koleksi lokomotif uap, kereta bersejarah, serta jejak teknologi perkeretaapian di kawasan pegunungan. Museum ini menempati bekas Stasiun Willem I yang mulai beroperasi pada 21 Mei 1873, bersamaan dengan pembukaan jalur Kedungjati–Ambarawa.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Muhammad Harianto
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira