Jakarta (ANTARA) - Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 bertema "Reconnect-Reconnecting People, Culture & Wellbeing" akan mengangkat budaya tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah mengakar turun temurun seperti minum jamu hingga memperkenalkan keindahan keris.

"Kami punya idealisme untuk merekonteksualisasi warisan budaya tak benda yang ada di Jogja. Jadi kearifan lokal yang ada di Jogja tidak hanya sebatas keji warisan budaya dan masuk buku selesai, tetapi bagaimana kita merekonteksualisasi untuk lebih melekat kepada geng Z dan juga alfa, beta dan demografi selanjutnya," kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

GKR Bendara mengatakan sebanyak 97 komunitas dan mitra yang terkurasi akan ikut meramaikan festival kebugaran yang diselenggarakan pada 6 sampai 8 November 2026 di Loman Park Hotel, Yogyakarta itu. Dengan rincian 65 merupakan praktisi kebugaran dan 32 lainnya merupakan artisan.

Baca juga: 8 rekomendasi pulau di Indonesia yang cocok untuk self healing

Baca juga: Wisata kebugaran gerakkan ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir

Di dalamnya terdapat sebanyak 85 rangkaian program yang terjadwal, dan 14 di antaranya dapat diakses oleh publik secara gratis. Ada enam tema yang diangkat yakni "Spiritual & Energy Healing", "Mental Health & Emotional Wellbeing", "Meditation & Sound Healing", "Healthy Food & Herbals", "Art Therapy" dan "Breathwork & Mindful Movement".

Seluruh tema mengangkat mengenai cara nenek moyang dalam merawat kesehatan pikiran, jiwa dan raga. Menurut dia, tahun ini menjadi berbeda karena ada beberapa pengalaman menarik yang ingin diperkenalkan oleh pemerintah setempat, seperti dihadirkannya lokakarya jamu, senam bersama SKJ 88, meditasi laku mulih, membaca tarot Jawa sampai dengan konsultasi keris.

GKR Bendara menekankan bahwa selama ini keris dianggap sebagai barang mistis dan kerap dikaitkan dengan berbagai macam hal ghaib. Melalui JCWF 2026, keris akan diperkenalkan sebagai senjata tradisional yang memiliki nilai artistik dan memiliki bentuk yang berbeda-beda.

"Ada nilai filosofis dalam sebuah keris, kenapa keris itu kelok-kelok, ada yang kerisnya lurus, penggunaannya kapan dan sebagainya. Kami juga memperlihatkan bagaimana cara membersihkan keris dan itu bukan ritual musyrik," ucapnya.

Baca juga: RI perkuat kerja sama dengan ASEAN-Japan Centre kembangkan pariwisata

"Tetapi memang ritual dimana itu adalah kearifan lokal zaman dulu, pakai jeruk, cendana. Karena zaman dulu belum ada bahan kimia yang bisa melunturkan karat, lumut dan lain sebagainya. Jadi itu menjadi tradisi yang ada, tapi juga membuat sebuah ketenangan pikiran," lanjut GKR Bendara.

Selain memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya dari Pulau Jawa, GKR Bendara menyampaikan bahwa festival juga dimaksudkan untuk memperluas jejaring komunitas lokal dengan pelaku industri seperti dari perhotelan, agen perjalanan hingga pengelola destinasi wisata.

Penyelenggara, katanya, juga bekerja sama dengan Kelurahan Guwosari di Bantul dalam menerapkan pengelolaan nol limbah (zero waste management). Sejumlah kolaborasi yang disebutkan yakni terkait dengan pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sampah melalui program daur ulang.

Kolaborasi ini dilakukan sebagai langkah untuk mengajak pengunjung dan stan yang hadir untuk menjaga festival berlangsung dengan bersih dan ramah lingkungan.

Sementara bersama Atourin, ia menjelaskan penyelenggara JCWF akan menghitung jejak karbon (carbon footprint) untuk menghitung emisi berbagai aktivitas acara, sejak pembelian tiket hingga reservasi. Penanaman pohon pun dilakukan berdasarkan hasil perhitungan emisi.

Baca juga: Wamenpar soroti pentingnya konektivitas bagi industri kebugaran

Baca juga: Kemenpar fokus kembangkan kompetensi SDM di industri kebugaran

Baca juga: Kemenpar siapkan peta jalan untuk industri kebugaran kian berkembang

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Hreeloita Dharma Shanti

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira