Tantangan terbesar yang dihadapi industri penerbangan saat ini bukanlah permintaan penumpang, melainkan kenaikan biaya untuk melayani permintaan tersebut

Jakarta (ANTARA) - PT Indonesia AirAsia mempertahankan tingkat keterisian penumpang (load factor) sebesar 82 persen hingga September 2026 di tengah tekanan biaya operasional, terutama akibat kenaikan harga avtur dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Sementara pendapatan per kursi-kilometer tersedia (Revenue per Available Seat Kilometer/RASK) meningkat 25,5 persen secara tahunan (yoy). Capaian tersebut ditopang strategi optimalisasi jaringan dan penyesuaian kapasitas penerbangan yang diukur melalui Available Seat Kilometer (ASK), yang turun 23,6 persen (yoy).

“Tantangan terbesar yang dihadapi industri penerbangan saat ini bukanlah permintaan penumpang, melainkan kenaikan biaya untuk melayani permintaan tersebut,” kata Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin Abdurachman dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Achmad Sadikin mengatakan, hingga September 2026, Indonesia AirAsia mengangkut 3,92 juta penumpang dalam 26.455 penerbangan.

Perseroan juga mencatat kenaikan harga tiket rata-rata sebesar 11,5 persen (yoy) menjadi Rp1,23 juta.

Meski demikian, pendapatan usaha perseroan tercatat sebesar Rp5,78 triliun, turun 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan biaya masih membebani kinerja keuangan. Beban bahan bakar mencapai Rp2,83 triliun, naik 19,1 persen secara tahunan akibat lonjakan harga avtur dunia sebesar 50,5 persen serta pelemahan rupiah sebesar 6,3 persen terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut turut menekan kinerja keuangan perseroan yang membukukan rugi sebelum pajak Rp1,74 triliun. Tanpa memperhitungkan kerugian selisih kurs, rugi sebelum pajak tercatat Rp913,29 miliar.

Achmad Sadikin mengatakan, Perseroan terus mengoptimalkan kapasitas, produktivitas armada, dan pendapatan per penerbangan untuk menjaga efisiensi di tengah tekanan biaya.

“Kami memaksimalkan setiap instrumen yang berada dalam kendali kami, mulai dari pengelolaan kapasitas dan produktivitas armada, hingga optimalisasi pendapatan per penerbangan serta pengendalian biaya. Prioritas kami bukan sekadar menambah frekuensi penerbangan, melainkan memastikan setiap penerbangan menghasilkan imbal hasil ekonomi yang lebih kuat,” ujarnya.

Dari total pendapatan, penjualan tiket penumpang berkontribusi sebesar Rp4,96 triliun, sementara pendapatan layanan tambahan (ancillary revenue) mencapai Rp822,53 miliar yang diperoleh dari layanan bagasi, hidangan dalam pesawat, penerbangan charter, dan kargo udara.

Memaksimalkan ragam sumber pendapatan ini menjadi bagian inti dari strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi per penerbangan sekaligus memperkuat ketahanan model bisnis Indonesia AirAsia.

Memasuki sisa tahun ini, Perseroan akan terus memprioritaskan jaringan rute dengan permintaan yang berkelanjutan, meningkatkan utilisasi armada secara selektif, serta menangkap lonjakan permintaan perjalanan pada periode libur akhir tahun (peak season).

Strategi ini diperkuat oleh integrasi ekosistem AirAsia Group yang lebih luas, termasuk layanan penerbangan lanjutan (Fly-Thru) yang menjangkau lebih dari 130 destinasi.

“Kami melihat potensi pertumbuhan tetap terbuka karena permintaan pasar yang mendasarinya masih terjaga. Melalui strategi rute yang lebih terarah, peningkatan produktivitas, serta dukungan ekosistem AirAsia Group, kami memiliki fondasi yang jelas untuk pemulihan kinerja secara bertahap. Kami akan terus menjaga fleksibilitas operasional agar dapat beradaptasi secara cepat terhadap pergerakan harga bahan bakar, nilai tukar mata uang, maupun kebutuhan pasar,” kata Achmad Sadikin.

Kepercayaan pelanggan juga kian memperkuat posisi Indonesia AirAsia di pasar.

Pada 2026, Indonesia AirAsia dinobatkan sebagai “Best Low-Cost Airline in Indonesia” untuk pertama kalinya dalam ajang Skytrax World Airline Awards.

Pengakuan internasional ini menjadi pencapaian penting bagi seluruh Allstars Indonesia AirAsia dan menegaskan apresiasi pelanggan yang tinggi terhadap kualitas layanan yang konsisten terjaga di tengah dinamika industri.

“Penghargaan Skytrax ini menjadi motivasi luar biasa bagi seluruh Allstars kami. Meski terdapat banyak faktor eksternal di luar kendali kami, prioritas utama kami adalah menjalankan bisnis secara efektif. Didukung oleh pasar yang tangguh, kekuatan jaringan rute AirAsia Group, serta dedikasi seluruh tim, kami optimis dapat melewati tantangan saat ini dan membangun kinerja yang lebih sehat serta berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Achmad Sadikin.

Baca juga: Indonesia AirAsia dukung tiket domestik turun 12 persen di akhir tahun

Baca juga: AirAsia raih dua penghargaan utama World Travel Awards Asia 2026

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Bayu Saputra

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira